Lukisan itu

merapi merbabu photo

Kelas kecil yang tadinya ramai mendadak hening. Dua sosok perempuan berjalan perlahan memasuki ruangan. Kami mengenali satu di antara mereka, bu Rohimah, wali sekaligus guru di kelas kami. Bu Rohimah mengenakan baju kurung dengan motif bunga-bunga berwarna ungu dan kuning. Jilbab ungunya tampak serasi. Bu Rohimah sudah seperti ibu kedua kami, ia sangat ramah dan sabar menghadapi kami, anak yang baru satu semester di kelas satu Sekolah Dasar. Anak yang masih suka menangis, iseng dan mengganggu anak perempuan teman kami.

Aku menyikut Eko, teman sebangku-ku yang sedang sibuk mengupil saat bu Rohimah datang, memberikan isyarat dengan kepala untuk melihat ke arah pintu masuk kelas. Sambil mengelurkan upil segede telor cicak Eko melihat ke menengok ke pintu masuk, tangannya yang memegang upil di selipkan di bawah meja, menempelkannya. Sudah tak terhitung aku mengamuk pada Eko karena terkena ranjau upilnya. Jorroook!!

“Siapa itu Jo?” tanya Eko kepadaku. Sekarang kedua tangannya sudah dilipat di atas meja, sikap wajib seorang murid SD menanti gurunya datang atau menunggu giliran diijinkan pulang.

“Ga tau Ko, baru lihat hari ini. Mungkin guru baru, tapi ko masih muda banget, seumuran mbakyu-ku kayaknya.”

“Cantik ya Jo.., hehehe.” Kata Eko sambil terkekeh memperlihatkan giginya yang jarang-jarang.

“Dasar kowe Ko. Anak kecil masih kelas satu SD ko sudah naksir orang gede. Jangan-jangan mbakyu-ku yo mbok taksir Ko? Jawabku sambil melotot.

“Kalo bapak-ibumu setuju, terus kamu juga setuju aku mau ko sama mbakyu-mu Jo, hahaha. Nanti kamu harus manggil aku mas!!..”

“Ngimpi kamu Ko!.. daripada jadi adikmu mending aku jadi adiknya mas Sabar yang angkatan itu. Mbakyu-ku wes dilamar! Kataku sambil menohok pelan kepalanya. Eko hanya meringis.

“Selamat pagi anak-anaaaak..?!!” sapa bu Rohimah bersemangat. Perempuan di sebelahnya tersenyum lebar. Ia mengenakan baju berwarna putih panjang tiga perempat, ada renda berbentuk bunga di bagian atasnya. Rok yang dikenakannya panjang di bawah lutut. Perempuan itu berkulit bersih, tampak terawat, bukan seperti kami kebanyakan yang berkulit legam karena kebanyakan bermain di sawah dan sungai. Rambut panjangnya dikucir ekor kuda, ada kacamata di atas hidungnya yang mancung. Cantik memang, Eko benar…

“Selamat pagi bu guruuuuuuu….!!” Jawab kami serempak.

“Anak-anak,…hari ini kita kedatangan tamu. Ini yang disebelah ibu, namanya mbak Sandra. Mbak Sandra ini mahasiswa dari perguruan tinggi di kota, sedang KKN di desa kita. Beliau akan membantu ibu mengajar kelas ini dua bulan ke depan. Kalian jangan nakal ya.., belajar yang baik sama mbak Sandra. Monggo mbak Sandra, silahkan perkenalan. Dua jam ke depan adalah pelajaran kesenian. Silahkan mencoba mengisinya. Kalau ada kesulitan saya ada di kantor kepala sekolah, membantu menyelesaikan administrasi sekolah bulan ini. Saya tinggal dulu ya…”

“Bejo, tolong teman-temannya diawasi ya, jangan bikin ribut! Itu tanggung jawabmu sebagai ketua kelas!” bu Rohimah member instruksi kepadaku. Instruksi yang selalu gagal kulaksanakan karena banyak pembangkang di kelas ini.

“Iya bu Rohimah, terima kasih bantuan dan kesempatannya,’ balas mbak Sandra sambil menangkupkan tangannya di depan dada sembari sedikit membungkuk.

Sepeninggal bu Rohimah, mbak Sandra mengambil alih kelas kami. Sesaat ia terdiam di kursi guru di pojok ruangan ini, mungkin sedikit canggung, atau menahan nafas karena bau tubuh kami yang memenuhi ruangan. Perlahan, sesaat kemudian, ia berjalan mantap ke tengah kelas.

“Selamat pagi adik-adikkk!!….” sapanya dengan suara renyah.

“Selamat pagi bu Guruuuuuuu….!!!” Jawab kami serentak. Prosedur yang sudah kami lakukan enam bulan terakhir.

“Eh… seperti yang telah disampaikan bu Rohimah tadi, nama saya Sandra. Kalian boleh memanggil saya mbak Sandra, soalnya kalau dipanggil ibu kok kedengarannya terlalu tua. Saya masih mahasiswa kok..,”

“Oya, jam pertama kita belajar kesenian. Karena ini hari pertama saya mengajar saya, saya ingin mengenal lebih jauh kelas ini sambil kita belajar bersama.”

“Saya menawarkan dua pilihan di jam pelajaran kesenian kali ini. Apakah adik-adik ingin menyanyi atau menggambar?” tanya mbak Sandra.

“Menggambar!!… Menyanyi!!! Menggambar!!!… Menggambar!!! Menyanyi..Menyanyi!!

Kelas yang tadinya hening berubah menjadi gaduh. Eko dengan bersemangat mengusulkan untuk menyanyi. Ia tak pernah sadar kalau suaranya tak pernah mampu mengikuti nada. Namun itu semua tak menyurutkan semangatnya untuk mendemonstrasikan suaranya falsnya. Aku sendiri lebih memilih menggambar, walaupun gambarku tak terlalu bagus. Aku masih mempunyai malu untuk memperdengarkan suara falsku. Menyanyi di kamar mandi sudah cukup menjadi ajang pentas bagiku.

“Adikk-adikk!…. tenang sebentar ya!” kata mbak Sandra sambil mengangkat kedua tangannya seperti pemain bola yang minta time out.

“Oke, siapa yang setuju menyanyi angkat tangan!”

Beberapa anak kemudian mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Aku yang duduk di samping Eko hanya bisa menutup hidung mencium bau ketiaknya yang seperti  terasi bakar.

“Satu..dua…tiga…delapan…dua belas! Yang setuju menggambar sekarang angkat tangan!” mbak Sandra kembali memberi aba-aba.

“Satu..dua..sepuluh…empat belas..tujuh belas!”

Selesai menghitung mbak Sandra mengerutkan dahi. Ia menuju meja guru dan membuka buku absen.

“Adik-adik…jumlah murid di kelas ini ada tiga puluh. Apakah ada yang absen? Karena jumlah yang mengangkat tangan hanya ada 29 anak..” tanya mbak Sandra.

“Masuk semua mbak Sandra! Saya sudah mengabsennya tadi sebelum bu Rohimah datang,” jawabku.

Memang menandai kehadiran teman-teman di kelas ini adalah salah satu tugas mulia yang dibebankan di atas pundakku sebagai ketua kelas. Dan aku menunaikannya dengan sungguh-sungguh amanat yang diberikan.

“Tapi kenapa jumlah yang mengangkat tangan kurang?” tanya mbak Sandra.

“Bejo tidak mengangkat tangan mbak Sandra!” tiba-tiba suara Eko melengking di sebelah telingaku. Aku terkesiap, lupa mengangkat tangan!.

Mbak Sandra berjalan mendekati meja kami. Hatiku pun berdegup kencang.

“Hai Bejo, kenapa tidak mengangkat tangan? Kamu tidak ngantuk kan?” mbak Sandra mulai menginterogasi. Pandangan menatap tepat di mataku.

“Bejo ngantuk mbak Sandra! Semalam ia mencari belut sampai jam 2 pagi di sawah!” tanpa kuminta Eko memberikan alasan yang jelas-jelas menurunkan harga diriku di depan mbak Sandra. Kalau tidak ada mbak Sandra sudah kujitak kepalanya yang plontos itu.

“Eh…tidak mbak…saya memang tidak memilih keduanya…saya abstain..itu lho kayak anggota DPR. Soalnya saya lebih senang menari.” Jawabku sekenanya.

“Ooh tidak boleh begitu. Kamu harus memilih salah satu. Bejo kan ketua kelas. Jadi harus tegas memilih salah satu pilihan.” Jelah mbak Sandra.

Tegas. Kata yang sering diucapkan bapakku ketika diminta menentukan pilihan. Mungkin model rambut belah tengah membuatku menjadi orang yang tak bisa tegas. Bergeser ke kanan dan ke kiri seperti air di atas daun talas. Namun, aku kan masih anak kecil…wajarkan…suara itu selalu ada dalam benakku sebagai bentuk pembelaan.

“Sebenarnya saya tidak suka keduanya mbak Sandra, karena tidak ada pilihan itu maka saya memilih menggambar saja mbak Sandra,” jawabku diplomatis. Mbak Sandra hanya tersenyum simpul, berjalan meninggalkan meja kami kembali ke depan kelas.

“Baik adik-adik…karena lebih banyak yang memilih menggambar, pelajaran kesenian kali ini kita akan menggambar pemandangan! Kalian boleh menggambar apa saja. Saya beri waktu untuk menggambar 30 menit ya. Ayo dimulai dari sekarang!”

Dan kamipun sibuk mengeluarkan buku gambar dan pensil. Anak-anak yang lebih mampu mengeluarkan krayon ataupun pensil warna. Kelas kembali hening.

—oooOooo—

“Ayo adik-adik. Waktu menggambarnya sudah selesai. Saya ingin melihat hasil gambar kalian dan memberikan masukan. Bejo.., saya boleh minta tolong untuk mengumpulkan gambar teman-temanmu?” suara mbak Sandra memecah keheningan kelas.

“Siap mbak Sandra!” jawabku sambil berdiri. Kulihat Eko masih mengarsir gambarnya. Namun segera saja kutarik buku gambarnya.  Coretan memanjang terlihat sampai ke tepi buku gambarnya. Ia memekik tertahan, namun setelah itu ia mendelik. “Satu-satu!,” kataku kepadanya. Ia hanya mendengus.

Satu persatu hasil gambar teman-teman aku kumpulkan dan kuletakkan di meja guru. Setelah kembali ke tempat mejaku, aku melihat mbak Sandra sedang memeriksa gambar-gambar itu satu persatu. Keningnya berkerut, nampak keheranan. Setelah gambar terakhir ia buka, ia mengambil acak tiga buku gambar dan di bawanya ke depan kelas.

“Adik-adik, saya lihat hasil gambar kalian. Apakah ada yang tahu kenapa tema gambar kalian mainstream semua?” tanya mbak Sandra.

“Mainstream itu apa mbak Sandra?” tanya Eko tanpa basa-basi. Sudah dari tadi ia jengkel disuruh menggambar padahal ia ingin sekali menyanyi di depan kelas. Sekarang, gambarnya pun tidak mendapat pujian.

“Mainstream itu bisa dikatakan temanya sama semua, itu-itu saja. Lihat ketiga gambar ini, semuanya gambar dua buah gunung, sawah, awan, langit biru dan matahari. Ini yang saya maksud mainstream,” jelas mbak Sandra sambil menngangkat gambar-gambar yang ia pegang.

“Kalian sebenarnya bisa menggambar yang lain. Pemandangan tidak harus dua buah gunung dan sawah. Kalian bisa menggambar sebuah gunung, danau, hutan, atau bahkan laut. Kalian harus kreatif ya adik-adik..”

“Iya bu Guruuu..,” jawab murid-murid serempak. Namun ada yang mengganjal di benakku.

“Tapi bu Guru…, semenjak kecil kami tinggal di desa ini. Kami hanya melihat sawah, sungai, serta dua gunung itu. Kami belum pernah melihat danau, hutan atau bahkan laut. Gunung dan sawahlah yang membekas erat di ingatan kami,” tiba-tiba mulutku tak bisa kukendalikan. Mengeluarkan kata-kata yang kemudian kusesali. Lebih baik aku diam, kutukku dalam hati.

Aku lihat mbak Sandra berjalan mendekati mejaku. Bibirnya mengulum senyum, yang membuat hatiku semakin berdetak tak menentu. Aku menunduk.

“Bejo, apakah benar memang seperti itu? Jadi kalian menggambar gunung dan sawah ini karena kalian melihatnya tiap hari?” Tanya mbak Sandra sambil menatapku kembali.

“Be..be..benar bu Guru…” jawabku sambil menengok kearah samping dan belakang. Meminta dukungan dari teman-teman. Untunglah mereka serempak menganggukkan kepala, berbaik hati menolong ketua kelasnya yang tengah dirundung masalah.

“Ohh begitu ya. Saya minta maaf, saya tidak tahu kalau itu alasannya. Okay, minggu depan saya akan membawakan ensiklopedi landscape atau gambar pemandangan dari seluruh dunia. Kalian bisa melihat hutan tropis, gurun sahara, grand canyon, salju, sabana, dan masih banyak lagi. Namun sebagai gantinya, nanti sore saya minta kalian ajak melihat pemandangan yang ada di buku gambar kalian. Bagaimana? Setuju kaaannn?” tanya mbak Sandra sambil tersenyum manis.

“Setuju bu Guruuuuu!!!”

—oooOooo—

Selepas Ashar mbak Sandra menepati janjinya. Ia muncul di gerbang sekolah. Namun, hanya beberapa dari kami yang muncul di sana. Banyak diantara kami yang harus membantu orang tua, mencari rumput dan menggembala ternak sore itu. Aku, Eko dan sepuluh anak lainnya sudah siap sedia. Kamipun berjalan ke ujung desa. Hamparan sawah menyambut kami. Di kejauhan dua buah gunung menjulang di horizon. Pemandangan yang akan selalu kulihat di desa ini sampai kapanpun. Pemandangan yang akan tertanam dalam alam bawah sadar kami tentang lukisan pemandangan.

Advertisements