Mbok Tumi

wanita gunung

Kuletakkan surat kabar lokal itu di sampingku. Sesaat, akupun merebahkan tubuh di balai-balai bambu. Balai-balai bambu itu terletak di depan rumah simbah, di sebelah kanan sebelum pintu masuk. Rumah simbah sendiri berbentuk joglo dengan pendopo di depannya. Yang aku suka, rumah itu menghadap sawah. Di siang hari, walaupun udara di luar cukup panas, duduk di balai bambu itu mendatangkan kenikmatan tersendiri. Selain teduh, angin sepoi-sepoi dari sawah, dengan bau khas rerumputan dan padi-padian, membuatku sering berlama-lama di sana.

Hari telah menjelang siang. Aku masih menerawang kosong ke atap pendopo. Segala rupa pemikiran datang silih berganti setelah membaca surat kabar pagi itu.

“Pagi-pagi ko sudah melamun, ono po tho Le?” suara bariton mbah Kakung membuyarkan lamunanku.

“Ooh, mbah Kakung,” jawabku sambil bangun dari balai-balai. Mbah Kakung berjalan mendekat dan duduk di dekatku. Badannya harum parfum khas miliknya.

“Enggak Mbah, hanya mikir berita di surat kabar. Kok isinya banyak berita negatif ya mbah. Pusing aku mbah. Jadi inget film hollywood yang pernah aku tonton dulu mbah. Ada simpanse yang disuruh nonton berita anarkis tiap hari. Akhirnya simpanse itu jadi anarkis. Entah benar atau tidak film itu. Aku hanya berfikir jangan-jangan masyarakat kita seperti ini karena beritanya tiap hari negatif terus ya bah?”

Mbah Kakung tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang kecoklatan karena keseringan minum kopi.

“Tumben kamu mikir negoro Le. Hahaha,” jawab Mbah Kakung sambil tertawa.

“Aku lagi serius ni Mbah…” timpalku sambil memanyunkan bibir. Ah masih saja aku bertingkah seperti anak kecil di depan Mbah Kakung.

“Iyo Le, bisa jadi teorimu benar. Sesuatu yang dilihat tiap hari dan dilakukan oleh mayoritas orang bisa jadi menjadi budaya yang baru. Dulu orang pakai rok mini itu tabu, sekarang remaja pakai hot pant sudah biasa. Dulu orang berbuat salah itu malu, ketahuan mencuri itu malu… namun sekarang orang ketahuan mencuri uang rakyat saja malah senyum-senyum, bangga mungkin…”

“Orang jaman sekarang lebih tertarik gemebyar harta. Orang kaya dihormati, diikuti, di bela-bela walaupun hartanya di dapat dari hasil nipu rakyat..”

“Tapi ya itu Le…untuk itulah kita punya agama. Itu yang menjaga kita dari berita-berita negatif itu Le. Aturan agama tidak berubah oleh jaman, oleh pendapat mayoritas, oleh perubahan budaya, dan oleh demokrasi. Walaupun semua orang sepakat pakai rok mini itu biasa tetap saja itu ndak dibolehin agama. Walaupun secara demokrasi seorang koruptor bisa jadi anggota parlemen, tapi agama tidak membolehkan orang yang tidak amanah memegang kepemimpinan.”

Mataku tak berkedip memandang Mbah Kakung yang sedang menyampaikan argumennya. Iya tak sempat mengenyam pendidikan umum karena perang. Namun, pandangannya cukup luas.

“Iya mbah, bener juga yang mbah sampaikan. Gimana jadinya kalau kita gak punya agamanya mbah. Sekarang saja, jarang ada tokoh yang bisa dijadikan panutan. Tokoh yang tulus bekerja, bertutur kata menyejukkan, dan bertata karma,” sahutku sambil mengangguk-angguk.

“Tapi Le, memang dari surat kabar hari ini benar-benar tidak ada berita positif? Masak sih Leh?” Mbah Kakung ganti bertanya, sambil tangannya meraih surat kabar.

“Eeemm, oh ada Mbah… di halaman berita daerah. Ada cerita Mbok Tumi yang membeli Kambing untuk kurban tahun ini setelah menabung selama setahun dari penjualan kangkung. Aku…hampir nangis Mbah bacanya. “

“Nah itu Le maksudnya Mbak Kung. Pasti masih ada orang baik, tulus dalam beramal. Agama menyuruh kita berkorban Le. Berbuat baik pada orang lain. Bukan mengambil keuntungan untuk diri sendiri.”

“Tapi itu Mbah yang terjadi sekarang. Pimpinan negara, organisasi, dan agama, mereka menjadikan amanah yang mereka emban untuk kepentingan dirinya.” Sahutku sambil menerawang ke arah hamparan sawah.

“Mungkin mereka sedang lupa Le. Kita doakan semoga mereka segera sadar. Kanjeng Rasul tidak pernah mencontohkan seperti itu. Apakah beliau hidup bergelimang harta? Tidak bukan. Dulunya beliau saudagar kaya, tapi setelah menjadi pemimpin umat semua hartanya habis untuk fi sabilillah. Tak pernah ia tidur dalam kondisi kenyang. Semua hadiah yang diterimanya segera ia infakkan juga hari itu. Tak bersisa, bahkan untuk keluarganya. Beliau selalu berwasiat apabila meninggal tak mau mempunyai harta yang belum disedekahkan.”

“Engkau bisa melihat suri tauladan sahabat Kanjeng Rasul yang lain Le… Ingatkah engkau bagaimana Abu Bakar menyedekahkan semua harta? Bagaimana iya pergi ke pasar keesokan harinya untuk mencari nafkah buat keluarganya, sesaat setelah ia diangkat menjadi Khalifah? Ia yang mengembalikan sisa gaji dari Baitul Mal yang ditabung istrinya? Ia juga yang meninggal hanya meningkatkan seekor onta dan seperangkat alat makan?”

“Ulama adalah ahli waris kanjeng Rasul Le… Mereka akan berusaha mengikuti cara hidup Rasul yang sederhana. Dari sini engkau bisa membedakan mana ulama yang benar. Begitu juga seorang pemimpin yang benar.”

“Iya mbah. Makanya aku hampir nangis membaca berita Mbok Tumi dalam berkurban. Ia mengikuti Rasul dan sahabat-sahabatnya Mbah. Walaupun miskin, ia mau berlelah-lelah untuk beramal. Ia memiliki izzah yang tinggi, tak mau menengadahkan tangannya.”

“Bener Le…surga tidak bisa didapat dengan berongkang-ongkang kaki dan membual tentang kebaikan. Surga harus didapat dengan berlelah-lelah beramal kebaikan. Tentunya dengan keikhlasan…”

“Semoga Tuhan menerima amal baik mbok Tumi ya Mbah..”

“Semoga Le…Amiiin…. Barakallahu fii ukhtina mbok Tumi…”