Kompleksitas Ramayana

ramayana ballet

 

Hari sudah beranjak sore ketika kami menuju jogja. Dahulu, hampir setiap minggu aku menyusuri jalan solo-jogja, jalan raya satu-satunya yang menghubungkan, tentunya, kota solo dan jogja. Jalan tersebut melewati beberapa kota kecil. Sebutlah kota Delanggu yang terkenal dengan beras rojolele-nya, kota Klaten yang terkenal dengan ayam bakar & sop, serta kota prambanan yang mempunyai ayam goreng mbok berek. Di kota terakhir, berdirilah candi Prambanan dan kompleks candi sewu. Candi ini berada tepat di pinggir jalan raya solo-jogja. Entah berapa puluh kali kami melewatinya, namun jumlah kunjungan kami bisa dihitung dengan jari.

“Kakak…ibu, nonton yuk?”
“Nonton apa yah? Film…?” si kakak malah balik bertanya.
“Kok film terus? Kita nonton sendratari Ramayana aja yuk? Mau ga?”
“Ceritanya tentang apa yah? Bagus ga?” Kakak malah balik bertanya.
“Bagus banget…para seniman menari menceritakan kisah Ramayana…”
“Emang Ramayana ceritanya bagaimana ya?”
“Ehmm… Ramayana menceritakan kisah Rama yang menyelamatkan istrinya Dewi Shinta yang diculik oleh raja Alengka bernama Rahwana.”
“Kalo ada nari-narinya Kakak seneng yah..boleh yuk kita nonton, ya Bu?” tanya si Kakak minta dukungan.

Akhirnya kami pun berhenti di Prambanan, Maghrib di masjid Al Muttaqun dan makan malam di warung sate di seberang Bogem. Selepas makan, kami pun menuju ke kompleks sendratari di seberang. Masih ada waktu sekitar lima belas menit sebelum pertunjukkan. Masih cukup untuk berfoto-foto bersama beberapa seniman yang mengenakan baju wayang setelah kami membeli tiket. Dari pembelian tiket, kami memperoleh booklet alur cerita sendratari malam itu.

Datang mepet ternyata tidak menguntungkan. Spot tempat duduk yang bagus telah dikuasai penonton lain. Akhirnya, paling tidak, kami mendapatkan posisi paling bagus diantara tempat duduk yang tersisa. Dan pertunjukkan pun dimulai…

“Ayah… siapa yang tengah menari itu?”
“Kakak…, dua orang laki-laki itu Rama dan Laksmana. Rama yang mahkotanya lebih besar. Penari wanitanya memerankan Shinta istri Rama.”

“Ayah… siapa penari berbaju kuning itu?”
“Dia memerankan kijang yang lincah kakak… Kijang itu menarik hati Shinta untuk memilikinya. Lihatlah ia meminta Rama untuk menangkap kijang itu. Namun ia tidak tahu bahwa sebenarnya kijang itu jelmaan raksasa suruhan dari Rahwana.”
“Kenapa Shinta ditinggal di lingkaran ayah?”
“Shinta meminta Laksmana menyusul Rama anakku. Karena ditinggal sendirian, Laksmana memasang pagar gaib agar orang jahat tidak mengganggu Shinta. Lihatlah Rahwana mulai datang, tapi dia tidak bisa memasuki lingkaran itu.”

“Siapa orang tua itu ayah?”
“Dia jelmaan Rahwana anakku. Ia menjelma sebagai pengemis agar Shinta menjadi iba dan menolongnya. Lihat Kakak, Shinta keluar dari lingkaran gaibnya, sehingga Rahwana bisa menculiknya.”

“Siapa yang memakai baju burung dan berkelahi dengan Rahwana, ayah?”
“Itu Jatayu anakku. Ia teman Rama yang hendak menyelamatkan Shinta. Sayang ia tewas di tangan Rahwana…”
“Aku kasihan ayah..kenapa burung Jatayunya harus mati? Kan dia burung yang baik?”
“Ceritanya seperti itu anakku, kadang yang baik tidak selalu menang.”

“Ayah…siapa orang-orang yang berpakaian monyet itu? Lucu banget ya tariannya..hihihi. Ah..tapi… kenapa monyet merah itu berkelahi dengan monyet biru? Siapa juga penari wanita itu ayah?
“Monyet yang merah itu Subali anakku, yang biru bernama Sugriwa. Mereka berdua adalah kakak dan adik. Mereka berkelahi karena memperebutkan Gua Kiskenda dan dewi Tara.”
“Ayah… mereka kan bersaudara. Kenapa berkelahi? Bukannya harus disayang adiknya? Aku bingung ayah… Lho…lho.. itu yang dipinggir arena kan Rama dan Laksmana ayah? Kenapa mereka hanya melihat ayah? Bukannya melerai?”
“Ayah …itu kenapa Rama mengeluarkan panahnya? Lah..kok dia malah memanah Subali? Rama jahat dong yah? Dia juga tidak ksatria, memanah orang yang lagi berkelahi….Jahat!!!”
“Ceritanya emang seperti itu kakak…kita lihat saja ya?”

“Ayah… siapa yang menemani Shinta itu?”
“Putri itu namanya Trijatha anakku. Ia putri yang baik hati. Lihatlah ia menghalang-halangi Rahwana ketika akan mencelakai Shinta.”
“Tapi kok.., putri baik hati mau tinggal di kerajaannya Rahwana. Bukannya Rahwana orang jahat. Kenapa ia mau tinggal di sana dan membantu?”
“Tidak semuanya orang yang tinggal di Alengka itu jahat, Kakak. Ada beberapa orang baik di sana. Contohnya Trijatha dan ayahnya Wibisana. Mungkin mereka berharap Rahwana berubah menjadi baik.”

“Ayah… raksasa yang berperang itu siapa? Lagi-lagi Rama memanahnya dari kejauhan. Tapi kenapa Rama duduk di dekat jenazahnya? Kenapa di sekelilingnya banyak wanita berpakaian putih yah?”
“Dia bernama Kumbakarna, adik Rahwana anakku. Dia raksasa yang baik. Dia berperang karena membela Negara Alengka, bukan berperang membela Rahwana. Ketika meninggal, semua orang termasuk musuhnya memberi hormat kepadanya. Para wanita itu adalah para bidadari yang mengantar arwahnya ke surga.”
“Tapi, berarti Rama jahat dong. Ia membunuh Kumbakarna baik!!!”
“Kadang orang baik bisa saling berperang karena mereka berada di pihak yang berbeda kakak.”
“Ayah aku bingung ayah, kalo sama-sama baik kenapa tidak berteman saja? Jangan berperang..”
“Idealnya seperti itu kakak … tidak ada yang jahat, semua orang berteman.”

“Ayah ayah…! Kenapa Shinta dibakar?!! Kasihan dia… Kenapa Rama tidak menolong?!!”
“Ehmmm…gimana ya kak. Itu mungkin Shinta sedang diuji…Kalau lulus ujian dia dapat menjadi permasuri Rama…”
“Ayah aku bingung…”
“Ini hanya cerita saja kakak. Itu pertunjukkannya sudah selesai…Kita foto-foto dengan penarinya yuuk?”

Sambil berjalan menuju panggung, aku masih berpikir bagaimana menyampaikan konsep karakter-karakter dalam Ramayana. Engkau masih perlu belajar banyak anakku. Dunia tidak sekedar hitam dan putih…