Kesempatan kedua

loroong

Titik-titik air menghantam kaca jendela. Gemeretak suaranya membangunkanku, membuatku menengok ke arahnya. Dengan susah payah aku mengatur pupil, menyesuaikan cahaya yang serasa sudah setahun sudah tak kulihat. Sesaat kemudian, aku bisa melihat alur air yang perlahan mengalir di permukaan kaca luar. Sesekali kilat menyambar di kejauhan, menerangi atmosfer sore itu yang semakin gelap. Ingin rasanya aku berjalan menuju jendela, menempelkan telapak tanganku disana, merasakan dinginnya air hujan dari dari balik jendela. Dari lantai sepuluh gedung ini, akan sangat indah menikmati setiap tetes air hujan yang turun, kilat yang membelah langit, orang-orang berpayung, dan orang-orang yang berlari dibawah guyuran hujan. Namun, apa daya, aku masih tergeletak di ranjang sempit ini. Selang-selang dari kantung infus dan kantung obat-obatan menancap di tanganku. Tubuhku sendiri mengkhianati tuannya yang menginginkannya bangkit dan bergegas pergi dari bangsal rumah sakit ini. Tidak, tubuhku tidak mengkhianatiku. Aku lupa, aku tidak pernah memiliki tubuh ini. Tubuh ini… hanya dipinjamkan kepadaku…

Semua berlangsung begitu cepat. Dua hari yang lalu, aku masih bisa menempuh perjalanan lebih dari enam ribu kilometer. Kemarin, aku masih bisa berkeliling kota. Subuh tadi, aku masih berasa memiliki dunia. Namun, dua jam selanjutnya, tubuhku tiba-tiba menggigil hebat. Dua jaket yang kukenakan tak sanggup menahan rasa dingin yang mengigit. Jari-jari tanganku perlahan mulai kaku. Sebagian mulai kehilangan rasa. Dua jam berikutnya, aku sudah terbaring di emergency unit. Kaki dan tanganku tak lagi bisa digerakkan, semuanya menegang. Sakit tak terperi menjalar di setiap sendi-sendi. Sesaat kemudian, sekujur kulitku mulai tak berasa. Irama jantungku semakin cepat, tak beraturan. Aku berpikir, hanya tinggal menunggu waktu saja untuk meledak atau berhenti sama sekali. Seperti orang yang tenggelam yang setiap kali mencapai permukaan, aku berusaha menarik nafas sekuatku. Terengah, nafasku semakin pendek dan semakin cepat. Orang-orang itu kemudian memasangkan selang oksigen ke lubang hidungku. Semburan oksigen begitu kuat kurasakan, namun sedikit yang bisa kuserap. Setiap tarikan nafas bisa jadi menjadi yang terakhir bagiku.

Aku berusaha menggenggam erat tangannya. Tangan yang semakin lama semakin tak bisa lagi kurasakan kehangatannya. Aku melihat matanya yang basah. Sedetik kemudian aku pun berpikir, inikah saatnya? Akupun mulai tersedu. Aku belum siap untuk saat ini. Masih segunung dosa yang kumiliki. Ada banyak janji yang belum kutepati. Belum tuntas tanggung jawabku. Namun, siapa yang bisa menjamin bahwa aku mempunyai waktu untuk semua itu. Tidak ada yang pernah siap ketika saat itu tiba. Hanya ada penyesalan, walaupun banyak orang yang bahkan tak sempat untuk menyesal ketika saat itu datang secara tiba-tiba.

Hari itu, tak ada yang lebih kuinginkan dari apapun. Akan kulepas semua harta, hanya untuk mendapatkan…kesempatan kedua. Lihatlah, betapa naifnya diriku. Seolah aku bisa menyuap pemilik semesta dengan harta yang bukan milikku. Di hari itu, sungguh aku merasa tak berdaya…

Ketika pasrah itu datang. Hanya kata maaf yang bisa kusampaikan kepadanya. Maaf karena aku tidak bisa menyelesaikan tanggung jawabku. Maaf karena salah-salahku. Dan.. maaf karena aku mungkin tak bisa lagi menjaganya. Air mata semakin menganak sungai. Kami masih tak rela inilah saatnya, jika ini adalah sebuah perpisahan.

Hujan mulai mereda. Suara gemeretak di kaca perlahan mulai menghilang. Sayup aku mendengar suara merdu takbir berkumandang di kejauhan. Suara takbir anak-anak dan dewasa saling bersahutan membuka hari yang fitri. Kulayangkan pandangan ke seluruh ruangan. Kosong, aku sendirian di tempat ini. Hanya ingin memastikan, kutarik nafas dalam-dalam. Di setiap molekul-molekulnya aku merasakan kehidupan. Aku…masih mendapatkan kesempatan kedua.

Advertisements