Melihat hitungan-menghitung penglihatan (2)

sunrise di atas awan

Lagi, tentang perdebatan penetapan tanggal 1 Ramadan di Indonesia. Sudah 67 tahun merdeka. Namun, setiap tahun masalah ini selalu muncul. Banyak orang menyebutnya perbedaan sebagai rahmat, namun menurut saya tidak. Lebih banyak mudharatnya. Terlalu banyak energi dan waktu yang terbuang hanya untuk hal ini. Kebenaran hanya satu, tak mungkin ganda.

Penetapan awal puasa merupakan kombinasi antara Lunar dan Solar calendar (lunisolar calendar). Jika ditanya kapan mulai puasa, jawabannya tetap tanggal 1 Ramadan. Namun, tanggal 1 Ramadannya terletak pada tanggal berapa menurut kalender Masehi/Solar?

Berdasarkan kesepakatan internasional, hari baru (berdasar kalender Masehi) dimulai di daerah 180 derajat Meridian yang membentang dari timur new Zealand, kepulauan pasifik polinesia, sampai laut bering (bisa dilihat di http://www.staff.science.uu.nl/~gent0113/idl/images/time_zones_2007.jpg), dikenal sebagai International Date Line.

Indonesia, khususnya daerah yang terletak di Waktu Indonesia bagian Barat (WIB), terletak di sebelah barat garis tersebut, mempunyai selisih waktu 6 jam dari Negara di kepulauan polinesia (Kiribati, Tonga), menjadi salah satu negara yang paling awal menikmati hari baru. Dengan demikian, Indonesia juga menjadi Negara paling awal menikmati sore/malam hari, dimana Lunar calendar memulai hari barunya.

Di website moon sighting (http://www.moonsighting.com/1433rmd.html), disebutkan bahwa kepulauan Polinesia bisa melihat hilal dengan mata telanjang (naked eyes). Namun, dikarenakan posisi geografi, walaupun terjadinya sore/malam hari hanya selisih 6 jam, Indonesia tidak bisa melihat hilal, walaupun dengan teleskop. Hal ini menjadikan perbedaan permulaan Ramadan. Yang meyakini rukyat lokal mengharuskan melihat bulan di tempat mereka berada sedangkan di rukyat global membolehkan penggunaan hilal di tempat lain.

Konsisten

Umat manusia diseluruh dunia, baik apapun agamanya telah sepakat menggunakan penanggalan berdasarkan international date line. Penanggalan tersebut digunakan untuk berbagai macam keperluan termasuk keagamaan (e.g: Christmas). Boleh dibilang sangat2 sedikit yang mempermasalahkannya. Chinese calendar, menganut sistem lunisolar juga. Namun, selama ini sangat jarang mereka berdebat kapan Imlek, Cap Go Meh, dll diselenggarakan. Sya tidak pernah ingat saudara kita Tionghoa yang tinggal di Indonesia, berbeda tanggal dengan mereka yang di China, Singapura, dan negara lain.

Uniknya, selama 14 abad sepeninggal Rasulullah SAW, umat islam belum sepakat mengenai beberapa tanggal di kalender Hijriah. Berdasarkan hitungan astronomi (hisab) orang bisa menentukan penanggalan Hijriah. Penanggalan ini digunakan hampir semua umat Islam untuk keperluan hari-hari besar keagamaan termasuk ketika puasa sunah tanggal 13-15 tiap bulan, KECUALI saat Ramadan, idul fitri dan idul adha. Namun, ketika memasuki tanggal-tanggal yang sensitif tersebut, polemik kemudian muncul dan ini terjadi setiap tahun.

Menuju persatuan umat (think globally)

Kalender Masehi telah disepakati secara global, ketika terjadi revisi pun semua orang diseluruh dunia menyepakatinya. Melihat fenomena tersebut harusnya umat Islam juga berpikir global, tidak lokal. Sangat naïf apabila kita menginginkan persatuan umat tapi kita masih mengikuti kepentingan kelompok/golongan, tidak konsisten dan menganut standard ganda ketika memutuskan sesuatu.

Saat ini, Kita telah mengikuti penanggalan Masehi dengan referensi daerah yang terletak di International Date Lines. Apabila kita ingin konsisten dengan hal tersebut, hari baru untuk lunar calendar harus didasarkan daerah referensi yang sama. Hal ini akan memudahkan umat islam dalam menyatukan penanggalan. Contoh saat ini, secara perhitungan (hisab) hilal telah diatas ufuk, terlihat secara kasat mata di wilayah yang digunakan sebagai referensi penanggalan (kepulauan polinesia di pasifik), namun tidak terlihat di daerah Indonesia dan Australia. Jadi seperti halnya kalender Masehi, jika kita ingin konsisten, terlihatnya bulan di daerah referensi harusnya juga berlaku secara global.

Sepakat dan konsisten adalah solusi untuk permasalah penanggalan saat ini. Bila diperlukan, Negara-negara muslim bisa membentuk konsorsium, mendirikan observatorium di daerah International Date Line (Tonga, Kiribati) khusus mengintip hilal setiap bulannya. Kalender Hijriah berdasarkan hisab bisa setiap bulan di konfirmasi dengan rukyat dan keputusan final dikeluarkan oleh konsorsium tersebut.

– 1 Ramadhan 1432H/2011-

Advertisements