Tersedu

awan panas

Suaranya mendadak parau, sedikit tersedu. Namun bibirnya masih terus melantunkan ayat-ayat suci itu. Akhirnya ia tak kuasa, tangisnya pun pecah. Air mata tumpah membasahi gamisnya. Jika tidak sedang menjadi imam shalat, mungkin ia sudah jatuh tersungkur meneruskan tangisnya. Tangis dari hati yang bersih, begitu takut amalannya tak cukup layak untuk menyelamatkannya di hari akhir nanti.

Di tempat itu (padang Mahsyar) setiap jiwa merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya (dahulu) dan mereka akan dikembalikan kepada Allah, pelindung mereka yang sebenarnya, dan lenyaplah dari mereka apa (pelindung palsu) yang mereka adakan.”  (QS Yunus 30)

Hari itu, semua manusia dikumpulkan. Semuanya telanjang. Namun, saat itu, tak seorangpun peduli dengan ketelanjangan itu. Semua begitu takut, karena hari yang dijanjikan telah benar-benar tiba. Orang-orang yang dulunya mendustakan berita-berita di kitab suci, sedemikian putus asa, tanpa pengharapan. Tidak, bukan hanya mereka saja yang ketakutan, orang-orang solih pun juga. Mereka takut amalan yang mereka lakukan dahulu bercampur riak, tak cukup menolong mereka hari itu. Suami telah melupakan istri, ibu telah melupakan anak-anaknya.

Matahari telah didekatkan, keringat bercucuran menenggelamkan manusia-manusia. Tidak ada yang sanggup memberi pertolongan saat itu. Pun orang-orang yang disembah manusia dulu, dijilat kakinya, dan mengaku turunan dewa. Nasib mereka jauh lebih buruk dari pengikutnya. Hanya orang-orang terpilih yang diberikan perlindungan dari azab hari itu, sesuai dengan apa yang dijanjikanNya.

Ditengah panas yang dahsyat, manusia begitu cemas menanti kitab apa yang akan diberikan. Berbahagialah yang diberikan kitab dengan tangan kanan. Muka mereka berseri-seri. Surga yang dijanjikan akan mereka terima. Namun, celakalah yang diberikan dengan tangan kiri. Bahkan kitab mereka dilemparkan dari belakang. Hanya ada penyesalan. Mereka kira hidup di dunia selamanya, namun kini mereka rasakan dunia hanya sekejap mata.

Manusiapun digiring melewati Sirath. Di depan mata mereka; teman, keluarga, suami, istri, dan anak, ada berjatuhan ke dasar neraka yang menyala-nyala. Menjerit, melolong, meminta dikembalikan ke dunia agar mereka bisa berbuat baik. Pengharapan yang sia-sia. Namun, ada manusia yang melewati Sirath bagaikan kilat, berlari, dan berjalan. Merekalah golongan kanan. Dengan rahmat Allah mereka memasuki surga yang dijanjikan.

Setiap dosa meninggalkan noda hitam di hati. Jika tidak dibersihkan dengan taubat, hatipun menjadi terselimuti noda hitam. Ketika dibacakan ayat-ayat Tuhan, sang pemilik hati tak bergeming. Ayat-ayat itu hanya suara biasa yang masuk dari telingan kanan dan keluar di telinga kiri. Tiada takut dengan berita-berita hari akhir, dan menganggap lalu janji surga. Baginya, kitab suci hanyalah dongeng masa lalu saja. Cerita-cerita bagi pecundang, orang yang tak mampu menggapai dunia.

Allahumma ya muqalliba al-qulub, tsabbit qalbi `ala dinika.  Ya Allah, Tuhan yg membolak balikkan hati,teguhkanlah hati kami di atas agamaMU. Lunakkanlah hatiku, hilangkanlah selaput kelam yang membungkusnya, agar aku bisa menerima cahayaMu. Aku ingin sekali lagi menangis di hadapanMu, menyesali segunung dosa yang telah kulakukan.

Advertisements