Melihat hitungan-menghitung penglihatan (1)

mentari terbenam

Alhamdulillah…segala puji bagi rabb semesta alam yang mempertemukan kembali dengan Ramadhan… Seperti tahun sebelumnya bagi yang menunaikan ibadah puasa di perantauan akan disibukan dengan acara mencari informasi kapan puasa akan dimulai…?

Sebenarnya sungguh sederhana untuk memulai puasa, sesuai dengan hadits riwayat muslim (sahih muslim 1795)

Dari Nabi saw. bahwa beliau menyebut-nyebut tentang bulan Ramadan sambil mengangkat kedua tangannya dan bersabda: Janganlah engkau memulai puasa sebelum engkau melihat hilal awal bulan Ramadan dan janganlah berhenti puasa sebelum engkau melihat hilal awal bulan Syawal. Apabila tertutup awan, maka hitunglah (30 hari).

Yang menjadi bahan diskusi para ulama adalah apakah penglihatan hilal suatu negeri berlaku dinegeri yang lainnya, dan kalo boleh seberapa kriteria jauh dan dekatnya, dan selain itu diskusi mengenai peran negara dalam menentukan hal ini. Bagi saya pribadi adalah mengambil satu dari pendapat tersebut dan beristiqomah dengan keputusan tersebut. semoga illahi rabbi menerima ibadah saya.

Apa yang menggelitik pikiran saya adalah konsep melihat…terkait dengan proses melihat dengan calculator hisab. Kriteria hisab menyatakan awal bulan ditentukan bila tinggi bulan lebih dari 2 derajat, jarak sudut bulan-matahari lebih 3 derajat, dan umur bulan sejak ijtimak (bulan dan matahari segaris bujur) lebih dari 8 jam.

Namun, apakah metode melihat akan selalu menafikan metode perhitungan? Untuk kasus di brisbane saat ini kebetulan cuaca hujan dari selasa sore sampai dengan rabu pagi sehingga otomatis hilal tidak mungkin terlihat. Berbeda halnya dengan Indonesia yang menyatakan melihat hilal di beberapa tempat dan hitungan hisab menyatakan tanggal 11 agustus 2010 sebagai 1 ramadhan.

Beberapa orang ada yang meragukan hilal di Indonesia dan menyatakan tidak mungkin melihat hilal (dengan ketinggian hilal 2 derajat atau kurang). Benar, secara kasatmata mungkin bulan baru tidak terlihat, namun dengan menggunakan kacamata matematika astronomi kita bisa mengetahui kapan bulan baru terjadi.

Saya ingin menggunakan analogi sebuah sebuah sinyal informasi dengan frekuensi tertentu terbenamdalam derau (noise) yang mempunyai power yang lebih besar. secara kasat mata mungkin kita tidak melihatnya, namun semisal dengan perhitungan matematis sederhana (semisal fourier transform) kita bisa menjadikannya terlihat dan dibedakan dengan noise, bahkan kita bisa membangkitkan automatic alarm dengan menentukan threshold tertentu untuk menandakan keberadaan sinyal tersebut.

Yang menjadi pertanyaan apakah proses melihat dengan perhitungan ini akan membantu proses melihat secara kasat mata, sehingga demikian problema cuaca atau keterbatasan fisik manusia bisa diatasi?? Akankah satu penglihatan memperkuat penglihatan yang lain???..

Mungkin yang diperlukan adalah kesepakatan para ahli astronomi mengenai mengenai treshold bulan baru (imkanurru’yah) dan metode penyajian informasi secara grafis disertai dengan detailnya sehingga penganut rukyah bisa dengan legowo menerima bahwa benar “hari ini adalah 1 ramadan”, sehingga pada suatu saat nanti umat islam bisa secara bersama-sama dan tenang hatinya memulai dan mengakhiri ibadah puasa…

wallahua’lam bishawab

GPSouth 509, 1 ramadhan 1431H/2010

Advertisements