Jejak Daendels

 lampu mercusuar carita

Gadis kecil itu terengah. Bulir-bulir kecil air mulai menitik di wajahnya. Sesekali ia menelan ludah. “Udah ya aku sampai di sini…” ujarnya merajuk. Ia memang takut ketinggian. Namun ini baru lantai empat. Sama halnya dengan lantai satu, ruangannya masih luas. Ada tangga setengah melingkar untuk naik dan turun ke lantai berikutnya. Namun, dari sana pemandangan belum begitu terlihat.

Ketika semngatnya nyaris padam, terdengar suara detak sepatu beradu dengan tangga logam. Sejurus kemudian suara canda tawa anak-anak kecil terdengar dari lantai sebelah atas. Dua anak kecil turun dengan baju basah karena keringat. Tapi mereka tampak bahagia.

“Kenapa dik? Takut ketinggian ya? Jangan takut, aman kok…Di atas adik bisa melihat keajaiban!” sapa orang tua kedua anak yang baru turun. Demi melihat kedua anak seumurannya itu, semangat gadis kecil itu kembali menyala. Dikumpulkannya keberaniannya untuk menapak tangga demi tangga. Masih 12 lantai lagi, atau..lebih tepatnya 13 lantai lagi untuk melihat puncak mercusuar.

Dua puluh menit berlalu. Setelah berjuang menaiki lantai demi lantai akhirnya gadis kecil itu berhasil mencapai puncak mercusuar. Keingintahuannya mengalahkan rasa takutnya. Ia ingin melihat puncakl mercusuar, melihat lampunya, melihat dunia dari atas. Sama halnya ketika aku menceritakan kepadanya tentang sejarah mercusuar ini. Sejarah begitu menarik baginya. Aku masih ingat, di lain waktu, ia begitu bersemangat bercerita tentang Gusti Nurul, Royal Princess penunggang kuda terhebat di Jawa.

Mercusuar ini adalah mercusuar kedua yang di bangun di titik nol Jalur Daendels, atau tepatnya Great Post Road (jalan raya pos) yang dibangun Herman Willem Daendels. Orang menyebutnya Jalur Pantura saat ini, menghubungkan Anyer di Banten dan Panarukan di Jawa Timur. Mercusuar pertama hancur terkena tsunami akibat meletusnya gunung Krakatau.

Sama halnya objek wisata sejarah yang lain di Banten, kondisi mercusuar tidak terawat. Kotor dan penuh coretan. Karat mulai memakan bangunan yang terbuat dari besi itu. Tangga-tangga sebagian sudah rusak, jadi harus ekstra hati-hati ketika naik-turun mercusuar. Menurutku, mercusuar adalah salah satu objek wisata yang seksi, karena tak banyak daerah yang mempunyainya. Bisa dihitung dengan jari. Apalagi, pantai disekitarnya cukup indah. Kombinasi yang dahsyat.

Puas melihat-lihat, kami pun turun. Turun lebih cepat dibanding naik. Butuh kurang dari 15 menit untuk menuruninya. Sesampai di bawah si gadis kecil menatap puncak mercusuar. “Aku di atas sana tadi,” mungkin itu yang ia pikirkan. Tangan kecilnya menggamit tangganku. “Emmm, ayah… boleh gak kita naik lagi?”

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements