Atid

kaki telanjang baduy

“Kayu..nanti jangan lupa sebelum ambil foto ijin dulu ya..!?” Hati-hati… yang sopan sama mereka!” teriak ibu dari kejauhan. “Iya bu…” jawabku sambil berlari keluar pintu. Hari sudah menjelang gelap ketika ia keluar dari rumah. Ke kantor gubernuran tujuannya sore itu. Tadi pagi, secara tak sengaja ia melihat iring-iringan suku Baduy memasuki kota. Setelah bertanya kesana kemari akhirnya ia tahu, akan ada acara Seba malam itu. Acara setahun sekali. Sudah lama aku ingin mengenal suku Baduy dari dekat. Suku yang katanya masih menjaga adat-istiadatnya dengan kuat. Bahkan beberapa tidak mau berhubungan dengan dunia luar.

Setengah berlari aku menyusuri jalan raya. Jarak kantor gubernur dengan rumah tak terlalu jauh. Hanya sekitar 15 menit jalan kaki. Tak lama aku sudah sampai disana. Suasana begitu ramai. Orang-orang baduy telah berkumpul. Sebagian besar mengenakan baju hitam-hitam. Mereka adalah Baduy luar. Sebagian kecil mengenakan baju putih adalah Baduy dalam. Konon Baduy luar telah menerima dan berhubungan dengan orang luar, sedang di Baduy dalam hanya beberapa orang saja yang diijinkan berkomunikasi dengan orang luar. Mereka semuanya bertelanjang kaki. Urat-urat kaki yang kokoh memperlihatkan mereka adalah penjelajah yang tangguh.

Aku mendekati sekelompok Baduy yang sedang duduk-duduk melepas lelah di bawah pohon. Hatiku ragu ketika hendak mengambil foto mereka. Aku tak terbiasa menjadi manusia sebagai objek. Bagiku, mereka adalah saudara, bukan makhluk eksotik yang hanya diinginkan gambarnya oleh fotografer.

“Sampurasun..hapunten, abdi tiasa ngafoto anjeun?” sapaku sambil mendekat. “Mangga…” senyum-senyum ramah pun merekah.

Setelah mengabadikan beberapa momen di sore itu aku memutuskan untuk istirahat. Mataku menyisir trotoar di jalan kantor gubernur. Ada tempat kosong di bawah pohon beringin, tampak seorang remaja baduy luar di sana.

”Hapunten, abdi tiasa calik di dieu?” sapaku ke remaja yang sedang duduk di bawah Beringin itu.

“Oh, silahkan..silahkan duduk…” remaja Baduy itu menjawab dengan ramah. Ganti aku yang terkejut bukan main. Ternyata remaja itu bisa berbahasa Indonesia. Jangan-jangan semua Baduy luar bisa berbahasa Indonesia. Malulah diriku, sedari tadi menyapa mereka dengan bahasa Sunda yang pas-pasan. Apes dah..

“Namanya siapa dik?” tanyaku sambil membetulkan posisi duduk.

“Atid… a, te’, i, yang terakhir pakai de’,” jawab remaja itu sambil menunduk, terlihat malu-malu. Aku perhatikan, tipikal orang baduy adalah pemalu. Bahkan Baduy tua yang suka menjual madu hutan ke ibu. Walaupun tua tetap saja pemalu.

Heroik. Itu yang ada dalam pikiran Kayu ketika mendengar cerita Atid. Ia bercerita bagaimana orang-orang Baduy datang ke Seba Baduy tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya. Baduy luar diangkut dari desa mereka dengan truk dan diturunkan di daerah Mandala, Rangkasbitung. Mereka harus berjalan puluhan kilometer sebelum sampai ke Kantor Gubernur Serang, tanpa alas kaki. Perjalanan Baduy dalam lebih hebat lagi. Haram bagi mereka untuk naik kendaraan, sehingga mereka harus benar-benar berjalan dari rumah mereka ke Serang dengan jarak hampir lebih dari 70km. Acara Seba Baduy telah turun termurun mereka lakukan semenjak jaman Kesultanan Banten.

“Atid kelas berapa?” Dari penampilannya aku memperkirakan Atid sepantaran ponakanku yang duduk dibangku akhir SMP.

“Saya tidak sekolah. Tidak ada sekolah di desa kami. Kami tidak dijinkan sekolah…” jelas Atid.

“Tapi Atid bahasa Indonesianya lancar?” tanyaku menyelidik.

“Iya, saya sudah pernah merantau. Saya pernah ke Tangerang, kerja jadi cleaning service di Carefour. Kebetulan saya kenal bosnya. Ia sering datang ke desa saya untuk fotografi. Ia mengajak saya kerja di tempatnya. Padahal saya tidak punya ijazah. Harusnya, untuk kerja disana minimal harus punya ijazah SMA…”

“Kenapa tidak dilanjutkan kerja disana Atid?”

Pandangan Atid menewarang. Aku hanya bisa diam menunggu Atid berbicara kembali.

“Saya…tidak betah. Saya rindu suasana kampung. Di kota semua ada, tapi mahal-mahal. Gaji saja 1,3 juta. Tapi untuk biaya hidup habis satu juta sendiri. Padahal, saya nginep di tempat bos saya. Gratis… Saya benar-benar rindu kampong saya yang sejuk, orang-orang yang ramah, dan semua bisa di peroleh dari alam. Tidak harus membeli… kami bisa hidup tanpa uang…”

Atid kembali bercerita bagaimana warga kampungnya hidup. Mereka bergantung dari sawah dan ladang. Jika berlebih, hasil panen mereka jual ke pasar di kota Rangkas. Baju dan piranti rumah tanggapun bisa mereka produksi sendiri. Hanya akhir-akhir ini saja, generasi muda mereka mulai mengenal kaos, handphone, dan piranti teknologi yang lain. Generasi baru tidak hanya mengenal alat musik tradisonal namun mereka juga mengenal lagu-lagu Noah dan grup-grup band lain. Mereka mulai tercelup budaya modern…

Adzan magrib berkumandang ketika aku berpamitan dengan Atid. Jabat hangat dan janji bertemu lain waktu. Dalam perjalanan pulang aku masih terngiang cerita Atid. Generasi baru Baduy telah lahir. Mereka tidak hanya belajar nilai-nilai dari leluhurnya namun juga hal-hal baru dari luar. Sampai jumpa Atid. Kuharap engkau tetap Baduy yang jujur, santun dan lugu ketika kita bertemu kembali.

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements