Aku Rahwana

ramayana prambanan temple

Bulir-bulir air semakin deras mengguyur tubuhku. Gerimis berubah menjadi hujan badai. Namun, dingin yang tadi kurasakan perlahan malahan mulai menghilang. Tubuhku sudah kehilangan rasa. Napasku tersengal. Apa daya, setiap kali aku coba bernafas, darah yang menggenangi mulut dan hidungku malah membuatku tersedak. Cairan merah kembali membasahi tanah di sekitarku. Di antara rinai hujan samar kulihat bayangan yang berdiri pongah di depanku, berjalan menjauh. Kesadaranku mulai menghilang, ketika kilasan-kilasan masa lalu berputar cepat diingatanku…

“Apakah sudah engkau pikirkan masak-masak keputusanmu Kangmas?” tanya Kumbakarna kepadaku, namun pandangannya menelisik keluar serambi kedaton. Mungkin ia tidak ingin sedang berdebat denganku. Hanya saja aku menangkap raut kekhawatiran di wajahnya. Malam itu aku baru saja bercerita kepada Kumbakarna adikku, tentang perburuan ke hutan siang tadi. Bukan hanya kijang dan kerbau hutan yang kubawa pulang, namun aku juga membawa pulang seorang wanita. Shinta, begitu wanita itu mengenalkan dirinya. Aku menjumpainya tengah berlari di hutan, sambil menangis. Waktu itu, ia belum mau bercerita. Hanya anggukan saja ketika kutawarkan pertolongan.

“Apa salahnya menolong Adimas? Jawabku sambil mendekatinya. “Ada orang yang kesusahan tentunya harus kita tolong.

“Tapi wanita itu tidak jelas asal-usulnya Kangmas. Bisa jadi ia buron dari kerajaan. Ia bisa menjadi balak bagi kerajaan kita.”

“Kita ini ksatria Adimas, harus berani melindungi orang-orang yang tertindas. Andaikata ia buron namun tak bersalah, kita wajib melindunginya. Apa Adimas takut?”

Sejenak Kumbakarna menoleh, memandangku tajam. Jelas-jelas ia merasa  harga dirinya diremehkan. Memang itu maksud kalimatku tadi.

“Kangmas, dewa saja bisa kita kalahkan, apalagi bangsa manusia, raksasa ataupun kera!” Aku tidak pernah takut melawan apapun! Namun ingat kangmas! Aku sudah memperingatkanmu akan masalah ini. Jika terjadi masalah di kemudian hari, aku akan bertarung untuk untuk Negara kita. Bukan untuk dirimu, atau wanita itu!”

Bulan bergelung awan ketika Kumbakarna meninggalkanku malam itu. Awan berarak seolah menggambarkan suasana hatinya yang gundah.Namun, sejak itu Kumbakarna tidak pernah mengungkit-ungkit masalah Shinta. Adik-adikku yang lain bahkan tak pernah menyinggungnya sedikitpun.

Akhirnya Shinta berkisah. Sepanjang cerita, air matanya menganak sungai. Di setiap isakannya tergambar derita yang amat mendalam. Jika ia adalah adikku atau saudaraku, mungkin aku sudah meraihnya ke dekapanku. Membiarkan sebagian deritanya mengalir ke tubuhku. Namun ia bukan siapa-siapa. Kubiarkan Trijatha, adik perempuanku, menemaninya.

Perkataan Kumbakarna kemudian hari menjadi masuk akal di otakku. Rama menuduhku mencuri istrinya. Shinta sendiri tampak goyah. Seperti tak ingin kembali ke Rama. Namun, aku tak bisa menjangkau dasar hatinya. Yang pasti, aku tak sudi menjadi orang ketiga.

Perlahan tapi pasti pasukan Rama mendekati Alengka. Pasukan wanara mulai membanjiri Alengka. Korban mulai berjatuhan. Kumbakarna yang semula menolak berperang, demi melihat Alengka diobrak-abrik, bangkit amarahnya menghancurkan pasukan Rama. Kemenangan di depan mata ketika Rama membentangkan busurnya. Panah-panah sang Brahma menerjang Kumbakarna, memangkas satu-persatu anggota badannya. Kehilangan tangan dan kaki tidak membuatnya menyerah, malah semakin membabi buta. Akhirnya panah terakhir memisahkan kepala dari tubuhnya. Tubuh besarnya jatuh berdebam berkalang tanah.

Malam hari itu, seribu jarum penyesalan menusuk hatiku. Akulah penyebab semua ini. Aku lelaki yang tak pernah menangis, akhirnya berderai air mata, menyesali kepergian adik, saudara, teman, dan rakyatku. Namun penyesalan selalu datang terlambat. Nista bagiku untuk menyerah dari peperangan ini.

Tibalah saatku berperang. Kuda-kuda berlari kencang di atas tanah berbatu. Disetiap derapnya, bunga api menyeruak. Di atas kereta kuda yang melaju kencang di medan perang, hatiku malah terombang-ambing seperti kapas ditiup badai. Untuk siapa aku berperang? Untuk pembalasan dendam kematian saudarakukah, negara Alengka, ataukah..Shinta..? Tiba-tiba sakit tak terkira menghunjam ulu hatiku. Sakit yang sebenarnya…

Kilasan-kilasan ingatan berubah menjadi hitam. Pedih tak tertahankan, sesaat sebelum nafas terakhir kulepas dari rongga dada. Aku menjumpai diriku melihat jasadku yang bersimbah darah berkalang tanah, dibiarkan begitu saja di padang rumput itu. Sejurus kemudian, aku serasa bulu yang melayang, melihat semua dari ketinggian. Aku masih melihat tentaraku yang menyerah pasrah.

Oh, aku masih bisa melihat Shinta bersama Rama. Apakah ia bahagia?.. Aku masih melihat mata Shinta berurai air mata. Ia harus menaiki panggung api yang menyala untuk membuktikan kesuciannya. Sungguh kasihan engkau Shinta. Orang yang engkau cintai selalu meragukanmu. Aku masih melihat engkau diusir Rama, terlunta-lunta di hutan. Aku masih melihatmu membesarkan anak-anakmu sendirian. Aku masih melihatmu menatap kejauhan, menanti Rama yang tak kunjung datang menjemputmu. Dan, aku masih melihatmu meminta bumi terbelah untuk menelan jasadmu, ketika Rama tak mengakui anak-anakmu.

Aku berpikir, sungguh malang nian nasibmu, mencintai orang yang tak pernah mempercayaimu. Ternyata aku salah. Ternyata ada yang lebih malang darimu. Aku kehilangan kehilangan keluarga, negara dan diriku, tanpa pernah mengerti apakah wanita yang kubela mencintai diriku. Kemalanganku belum berakhir, ketika tinta Rama menggoreskan sejarah kisah Rama dan Shinta. Rahwana adalah seorang bromocorah, raksasa buruk rupa pencuri istri orang. Ah, seandainya waktu bisa berulang. Akan kutuliskan ulang kisah tentangku. Rahwana, ksatria Alengka

Advertisements