Kertas doa

kertas doa1

Aku selalu melihatnya di sana.  Benda itu terselip di saku bangku depanku. Kertas mengkilap berwarna dominan putih berukuran folio yang dilipat menjadi dua secara vertical. Sampulnya bergambar lima rumah-rumah ibadah yang diakui negara. Ada gambar pesawat udara di bagian atasnya, mungkin sedang terbang. Di dalam lipatan tertulis doa-doa. Benda ini satu-satunya yang selalu utuh di saku setiap bangku, selain kartu petunjuk keselamatan pendaratan darurat. Orang mungkin masih memikirkan dosa untuk mengutilnya. Atau, majalah edisi lux keluaran maskapai dan pelampung keselamatan lebih mereka pilih untuk souvenir.

Entah mengapa setiap kali aku duduk di bangku pesawat ini, tanganku selalu meraihnya. Padahal isinya sudah aku ketahui. Doa-doa. Bisa jadi aku punya bakat claustrophobia, hyperphhobia atau bahkan fobia naik pesawat. Aku butuh sesuatu untuk menenangkan diri. Dulu aku berpikir bahwa orang negeri ini begitu religius, sehingga urusan kertas doa pun mereka urusi. Atau, mereka sangat peduli dengan kondisi psikologis penumpang pesawat, menyediakan kertas doa sebagai pengganti psikiater. Namun, setelah beberapa saat aku kembali ke negeri ini, aku kembali paham bahwa doa adalah bentuk kepasrahan terakhir setelah semua hal terbaik telah kita usahakan.

Dua hari setelah berita pesawat yang gagal mendarat, aku naik pesawat dari maskapai yang sama. Satu setengah bulan terakhir, hampir setiap akhir minggu aku memanfaatkan jasa maskapai ini untuk mengantarkanku menemui keluargaku. Sebagai penumpang yang baik, aku membawa bagasi kabin sesuai ketentuan,  mematikan telepon genggam, memperhatikan instruksi keselamatan. Semua yang terbaik aku lakukan agar penerbangan ini aman. Namun, pada akhirnya aku tetap meraih kertas doa itu, merapalkannya berulang-ulang. Ya, aku dan beberapa penumpang tertib, namun lihatlah sikap ignorance penumpang lain negeri ini. Mereka jejalkan bagasi yang melebihi ukuran ke ruang bagasi kabin, sampai-sampai sang pramugaripun kesulitan untuk menutup kabinnya. Overload? Mungkin juga. Sering terlintas apa yang terjadi jika turbulensi hebat menghantam pesawat ini. Bisa jadi bagasi kabin yang berpuluh-puluh kilogram menimpa penumpang di bawahnya. Selamat dari turbulensi iya,  namun patah leher bisa jadi sebagai gantinya.

Semenjak dari ruang tunggu pesawat penumpang sudah diingatkan berkali-kali untuk mematikan handphone mereka. Tulisan denda ratusan juta rupiah karena menyalakan handphone dalam pesawat juga ditulis besar-besar di setiap bangku. Namun semuanya seperti tidak pernah ada. Tak ada yang takut karena aturan tak pernah ditegakkan. Apa lacur, puluhan orang masih asyik mahsyuk bermain dengan handphone-nya sesaat pesawat sudah mulai menuju landasan. Entah itu pasang status atau kirim berita remeh temeh yang bisa dilakukan satu jam sebelumnya. Bahkan ada ibu-ibu yang dengan tenang memasukkan handphonenya yang masih menyala ke dalam tas jinjingnya, sambil memasang wajah tak berdosa.Aku tak tahu berapa puluh handphone yang menyala ketika pesawat tinggal landas atau mendarat. Lagi-lagi, hanya doa terucap di bibir yang gemetar.

Aku menyukai bangku di dekat jendela darurat. Itu adalah bangku paling nyaman di budget airline ini. Jarak antar bangkunya lega dan yang pasti dekat jendela darurat. Sesaat setelah aku menghempaskan tubuhku di bangku, sang pamugari mendekat. Ini adalah salah satu momen paling heroik ketika naik pesawat ini. Ia menjelaskan tugas kami yang mulia, membuka emergency exit ketika pesawat dalam situasi darurat. Aku merasa sebagai the chosen one yang memikul tugas mulia ini. Wajah menarik dan presentasi mbak pramugari sedikit menenangkanku. Sesaat sebelum beranjak pergi sang pramugari berkata, “Mas-mas dan mbak-mbak yang duduk dekat emergency exit mohon tidak menaruh barang apapun di bawah kursi, karena menurut pengalaman kami, itu akan menghambat proses evakuasi.” Tubuhku seketika serasa tak bertulang. Kertas doa yang tadinya sudah aku letakkan, kutarik lagi. Berulang-ulang melafalkannya.

Di lain hari, aku mungkin naik motor dengan tertib, mengambil lajur kiri, mematuhi batas kecepatan dan rambu lalu lintas. Namun tak ada yang menjamin motor atau mobil lain tak menabrakku. Kadang aku memilih mengendarai mobil dengan asumsi lebih aman. Namun sama saja, tak ada juga yang menjamin mobil lain tak menabrakku dari samping. Motor dan mobil  tak hentinya menyalip lewat kanan dan kiri. Semuanya tergesa-gesa. Tak hanya di jalan. Aku menjumpai semua orang tergesa-gesa, tak mau menuggu. Saling sikut tanpa peduli yang lain. Aku melihat orang-orang seakan sudah gelap mata, atau mungkin telah buta dalam cahaya. Aturan yang jelas pun nyata-nyata di langgar.

Hidup di negeri seberang yang lebih maju membuatku lebih sedikit berdoa. Aturan keamanan dan keselamatan begitu jelas. Mayoritas orangpun taat peraturan. Jika terjadi pelanggaran, sistem yang bekerja. Engkau bisa langsung menunjuk hidung siapa yang salah dalam urusan itu. Warga negara sebagai pembayar pajak dan pemilih anggota pemerintahan mempunyai hak untuk dilayani dengan baik. Mungkin, sistem yang baik itulah yang membuat mereka sedikit demi sedikit mengurangi ketergantungan akan peran Tuhan. Namun di negeri ini, aku serasa hidup di atas seutas benang. Sewaktu-waktu bisa terjatuh, celaka, meskipun itu bukan karena salahku. Di negeri ini, kita akan menjadi lebih banyak bersyukur.  Syukurlah, walaupun pesawatnya gagal mendarat tapi semua penumpangnya selamat. Syukurlah, engkau masih hidup walaupun pengemudi mabuk menabrak habis motor/mobilmu. Syukurlah, engkau masih bernafas walaupun mobilmu hancur ditabrak anak kemarin sore yang diberi mobil bapaknya untuk mengebut. Bersyukurlah, karena itu hal terakhir yang bisa kita lakukan.

Roda-roda pesawat berkejaran di landasan. Gaya thrust dan lift perlahan mengangkat badan pesawat yang bergetar meninggalkan bumi. Kertas doa kembali kubuka, kubaca berulang-ulang dengan hati yang tunduk. Terngiang petuah bijak di telingaku, “Hanya nafas doa seorang hamba yang mampu mengubah takdir Tuhannya, dan hanya perbuatan baiklah yang bisa memperpanjang umur seorang hamba.” Doa-doa dipanjatkan. Sayap-sayap pengharapan membawanya melesat menembus langit ke tujuh.

Advertisements