Lima ratus

simbah jojonan

Berapa uang yang anda habiskan untuk sekali makan? Sepuluh, dua puluh, atau bahkan ratusan ribu rupiah? Itu kadang belum termasuk parkir atau tips buat pelayan. Aku ingat, kebab di Hawken seharga tujuh setengah dollar. Total dengan minumnya harga sekali makan malam habis 12 dollar. Mungkin murah bagi anda, tapi bagiku, mahasiswa dengan beasiswa pas-pasan, tetap saja 120 ribu! Hiks…

Kemarin aku menjenguk bapak-ibu di kampung. Yayaya… Aku memang anak kampung. Jangan salah, anak-anak kampung jaman sekarang sudah canggih. Update lah pokoknya. Entah itu fesbuk atau twiter. Mungkin cuman aku malahan yang tidak punya akun fesbuk atau twiter. Tidak update! Aku pikir apa sih pentingnya bagi anda mengetahui apa sarapanku, aku yang lagi nyangkul di kebon, atau malah lagi poop di kali. Sori, yang terakhir itu duluuu banget. Setelah mbak-mbak cantik dan mas-mas ganteng KKN datang ke desa kami memberi penyuluhan, kami punya sarana WC pribadi !  WC basah tentunya, jangan bayangkan toilet kering seperti di hotel dengan lantai marmer dan tissue roll untuk bebersih. Kalau seperti itu, bisa-bisa WC nya malah kami jadikan alternatif kamar tidur kalau saudara jauh lagi menjenguk kami. Tisue roll bisa pindah ke meja makan untuk mengelap mulut-mulut kami sehabis makan!

Pagi itu, sehabis subuh dengan berselimutkan sarung aku tiduran di lincak depan rumah. Dulu sewaktu SD-SMP pastilah ada sapu melayang kalau saya tiduran habis subuh. “Pemalas!” teriak ibu saya. “Mana bisa maju kalau pemuda tidur habis subuh!” Biasanya dengan mata setengah terpejam dan sarung melingkar di leher, akhirnya aku menyapu halaman seluas lapangan futsal. Mungkin itulah mengapa seumur-umur aku tak pernah gemuk. Namun, sekarang berbeda. Tak seorangpun menegurku yang tiduran sehabis subuh. Mungkin mereka kangen karena lama tak bertemu denganku yang baru pulang dari perantauan. Atau mungkin karena ibu sudah terlalu capek mengingatkan aku yang sudah kumisan.” Terserah kamu mo ngapain aja Le! Mo nyungsep seharian di lincak juga terserah! Pokoknya aku sudah ga ada kewajiban mau kasih makan kamu lagi. Kewajibanku sudah selesai menyekolahkanmu sampai sarjana!” Mungkin itu pikir ibu.

Setengah terpejam aku dikagetkan suara rem sepeda berdecit. Seorang wanita jawa bergelung lengkap dengan jariknya turun dari sepeda onta. Sepedanya coklat bukan karena cat tapi karena karat. Mungkin kalau sepedanya dibawa ke Jakarta jadi buruan kolektor barang antik. Di boncengan sepedanya ada bronjong berisi dagangannya, sayur mayur, tempe, tahu, ikan, dll. Tak usahlah aku sebutkan semuanya, kita tahu tukang sayur jualan apa. “Sayuuuur buuuu!” suaranya mbok Sayur melengking tinggi. Andaikan dia tinggal di kota mungkin sudah jadi penyanyi soprano.

Ibu tergesa keluar. Ia tahu mbok Sayur punya jadwal kerja padat pagi itu. Paling tidak empat/lima desa ia kunjungi tiap hari. Mbok Sayur menurunkan dagangannya dan memajangnya di emperan rumah. Ibu-ibu tetangga mulai merubungnya. Transaksi perdagangan riil yang membuat negara ini masih tegak berdiri, jauh dari krisis ekonomi. Ini bukan transaksi bodong yang dilakukan dari belakang meja atau lewat telepon. Barangnya ada jelas dan kedua pihak melihatnya. Dari balik sarung kulihat ibu tukang sayur mengeluarkan jajanan pasar. Mendadak system syaraf pusat memerintahkanku untuk segera bangun. Target locked at 2 o’ clock! Kurapikan sarung dan mendekati kerumunan ibu-ibu. Pandangan menyelidik dari mata ibu-ibu ketika aku ikut jongkok melihat dagangan. Dasar jejaka sableng! Pikir mereka. Jam segini masih selimutan sarung.

“Niki pinten bu? Tanyaku sambil menunjuk jajanan pasar. Apem, meniran, dadar gulung, gethuk, klenyem, de el el. Ada juga lauk seperti bothok dan bongko. Lupakan sejenak donut, coklat, sushi, bread talk dan western food lainnya. Ini…, something different! Something delicious and so memorable! Priceless! Satu-persatu jajanan kumasukkan ke plastik. Ketika plastik penuh aku melihat ibu. Ia balas melihatku sambil menggelengkan kepala. Except no mercy! Aku pun mulai merogoh-rogoh kantung celanaku. Berharap menemukan sisa-sisa rupiah disana. Alhamdullillah. Ada selembar uang sepuluh ribu dan dua lembar dua ribuan lecek. Sisa parkir kemarin kayaknya.

“Niku jajanan lima ngatus-an setunggal mas-e,” jawab mbok Sayur yang sibuk melayani pelanggannya. “Pinten bu?!!” tanyaku setengah tidak percaya. Akhir-akhir ini telingaku memang agak budeg. Deru mesin-mesin yang lebih dari 60dB di tempat kerja membuat pendengaranku semakin kacau.

“Lima ngatus mas-e. Mundhak satus niku, regi bawangipun mindhak,” jelas ibu tukang sayur.

Lima ratus per-item! It’s real! Aku masih bisa makan dengan uang lima ratus di sini. Terakhir kali mbak kasir memberikan permen untuk kembalian belanjaku yang kurang lima ratus. Parkir motor saja sekarang minimum seribu. Parkir mobil dua sampai tiga ribu. Jangan harap beli donut dengan lima ratus, parkirnya aja ga boleh. Aku jadi teringat angka-angka inflasi yang dipresentasikan oleh para ahli ekonomi. Belum lagi informasi dari kanan-kiri kalau angka inflasi sengaja dikecilkan oleh pejabat Negara karena sesungguhnya inflasi sudah mencapai dua digit.

Seluruh dagangan mbok Sayur seharga makan siang anak-anak SMA di kota yang bapaknya bekerja di perusahaan kumpeni atau pegawai pemerintah yang menilep uang rakyat. Namun dengan dagangannya itu, mbok Sayur bertahan hidup. Ia tidak butuh makanan cepat saji, tempat kongkow yang cozzy, sosialita, hape yang bisa ngomong sendiri, atau bahkan berbagai macam  investasi. Hidup baginya sangat sederhana, bekerja dan dinikmati.

Disini waktu serasa berhenti. Benar, hidup serasa begitu sederhana. Alam memberikan semuanya. Dari hasil kebon dan sawah orang bisa bertahan hidup. Transaksi begitu sederhana. Tak ada keserakahan, tak ada kartel. Seandainya uang tidak ada, mereka masih bisa bertahan hidup. Uang dibutuhkan namun bukanlah segalanya bagi mereka.

“Urip kuwi sak madya Le, ora usah ngoyo, ora usah serakah, trima ing pandum. Sing penting nyambut gawe sing temen.”

Nggih mbok!

Advertisements