Tiwikrama

candi plaosan

Puntadewa tiwikrama. Ia menjelma menjadi brahala, seorang raksasa super yang menggoncangkan kahyangan. Tak seorangpun dewa yang menyangka ia akan bertranformasi seperti itu. Puntadewa yang mereka kenal adalah pribadi yang santun, tak pernah mengumbar amarah sedikitpun. Pun ketika Drupadi dipermalukan Kurawa, ia hanya diam membisu. Tutur kata Puntadewa bagai mantra penakluk jiwa. Setiap kali bersabda orang terpekur mendengarkan kata demi kata yang mengalir laksana gletser yang menghijaukan sahara. Namun kali ini kesabarannya sudah mencapai ujung batasnya tatkala melihat saudaranya diperlakukan tidak adil oleh Guru. Bertransformasilah ia di kahyangan dalam wujud dewa Amral sang brahala, membuat Guru lari terkencing-kencing.

Kisah tiwikrama bukan milik Puntadewa seorang. Lihatlah Kresna ketika ia dikhianati Kurawa. Maksud baiknya dibalas dengan tipu daya mematikan. Ia yang dikenal sebagai diplomat ulung, mampu mengendalikan naik turunnya emosi, akhirnya tak kuasa menahan amarahnya. Ia tiwikrama menjadi brahala. Bala kurawa pun dibuat tunggang langgang.

Engkau mungkin menyanggah karena Puntadewa dan Kresna adalah Raja. Mereka juga turunan dan titisan dewa. “Mereka berhak dan layak marah. Sedang aku tak bisa marah karena bukan siapa-siapa,” ujarmu lirih. Ucapanmu malah membuatku teringat si Petruk, salah seorang abdi Pandawa.

Satu ketika Petruk dijanjikan dewa boleh menikahi bidadari nan jelita apabila bisa mengalahkan raksasa Kalandaru yang mengacaukan kahyangan (jangan tanyakan kepadaku kenapa kahyangan tempat para dewa berada sering kacau). Petruk berhasil menunaikan tugasnya namun sang dewa tak menepati janjinya karena ia hanya seorang jongos, yang dinilai tak layak menikahi bidadari. Bertiwikramakah sang Petruk untuk memberi pelajaran ke sang dewa.

Puntadewa, Kresna dan Petruk dalam bertiwikrama bukanlah sekedar menurutkan egonya. Amarah mereka bukan sekedar mengamuk karena putus asa atau bahkan tantrumnya seorang anak yang tak dituruti kehendaknya. Mereka marah karena ingin menunjukkan entitas dan determinasi diri yang tidak bisa direndahkan bahkan oleh dewa seorangpun.

Aku sepenuhnya sadar bahwa menghindari konflik adalah cara yang efektif untuk menghemat pikiran dan tenaga. Adakalanya kita perlu mengalah. Mengalah bukan menyerah, namun mengambil jalan memutar, menghadapi lawan dengan strategi. Namun pada titik tertentu, ketika mengalah menyebabkan lawan merendahkan kita, tiwikrama diperlukan untuk menjaga harga diri dan kehormatan.

Advertisements