Cerita [tentang] Kuda

kuda

Setiap minggu sekali Kayu datang di group meeting di kelompok risetnya. Sebenarnya pertemuannya semi-formal namun pada prakteknya menjadi non-formal dan santai. Tidak semua waktu dihabiskan untuk diskusi serius tentang riset. Kadang salah satu anggota grup datang sembari membawa jajanan khas dari negaranya dan dimulailah diskusi tentang makanan tradisional dari daerah masing-masing. Atau kadang malah diskusi tentang agama. Maklum anggota grup dari berbagai Negara dengan agama yang berbeda-beda pula. Topik-topik up to date pun kadang menjadi bahan diskusi di grup riset Kayu. Satu yang menjadi perhatian Kayu selama diskusi, ketua grup adalah tipikal orang yang talkative. Suka bercerita dan kalau bercerita panjaaaaaang sekali. Apalagi kalau sedang memberikan petuah-petuah bijak. Kalau sudah begitu biasanya Kayu dan rekannya hanya saling mengedipkan mata saja sambil senyum-senyum.

Kali ini sang ketua hendak memotivasi para mahasiswa risetnya. Ia bercerita tentang majikan dan kudanya. Dalam perjalanan sang majikan merasa kalau kudanya kehausan. Maka ia menuntun kudanya mencari sumber mata air. Ketika sampai di mata air ia bingung karena kudanya tidak mau minum. Tentunya ia juga tidak bisa memaksa kudanya minum. Kalau ketahuan kelompok animal welfare bakal dituntut nanti, pikir majikan. Atau nanti malah dituduh sebagai pemasok daging kuda gelonggongan untuk bahan burger. Waduh, kayak di negara tetangga aja, ada sapi gelonggongan. Akhirnya majikan paham, ia “merasa” kudanya kehausan dan ia sudah melaksanakan kewajibannya mencarikan mata air. Terserah kudanya mau minum atau tidak.

“Do you know? The horse is you!” kata sang ketua sambil tersenyum lebar. “My responsibility is to show you what research is, why we do it, and how to do it! It is now up to you whether you want to do it, or you want to quit. Nobody will force you! PhD is not for everyone! You may go and many other candidates are willing replace you!”

“Waduh, gue disamain kayak kuda!” gumam Kayu dalam hati.

Self motivated atau internal locus of control. Itu yang dimaksud sang ketua. Dalam riset kita memang harus punya jutaan motivasi yang datang dari internal dari diri kita. Passion terhadap apa yang kita kerjakan biasanya menjadi sumber dari motivasi ini. Sang ketua tidak menginginkan ia harus mendorong-dorong mahasiswa untuk melakukan riset, karena dia sendiri sudah pusing dengan berbagai macam urusan administrasi universitas.

Untuk hal ini, Kayu sangat sependapat dengan sang ketua. Bahkan bukan hanya dalam hal riset, namun semua hal. Sebagai contoh dalam hal agama. Di kitab sucinya diterangkan bahwa tak ada paksaan dalam beragama. Tugas nabi hanyalah menyampaikan risalah kepada manusia. Manusia sendiri yang memutuskan. Kalau menerima, terimalah dengan penuh jangan setengah-setengah. Bukankah manusia juga tidak suka yang setengah? Mau anda mendapat cinta separuh? Pastinya tidak bukan?

Sering kali Kayu mendengar beberapa pernyataan “kalau kamu ga datang aku juga”, “aku mau pergi kalau kau pergi juga”, “aku mau melakukannya kalau si dia ada”, atau kalimat serupa itu. “Kenapa kita harus bergantung dengan orang?” Pikir Kayu. Selama ini ia berusaha menjauhi hal itu. Ia melakukan sesuatu karena dia ingin, bukan karena yang lain. Pun jika temannya tidak melakukan ia akan tetap melakukan. Jika temannya tidak pergi, ia akan tetap pergi. Jika merunut lebih jauh, dalam agamanya Kayu mengenal konsep ikhlas, melakukan sesuatu tanpa harap imbalan apapun kecuali dari Tuhannya. Tunggu, jangan mendebat terlebih dahulu. Konsep ikhlas bukan paradoks dari self motivated. Tuhan adalah sesuatu yang abstrak, bukan materi. Nah inilah yang membedakannya dengan melakukan sesuatu karena berharap imbalan/pujian dari manusia.

Konsep reward dan punishment dalam agama bersifat “abstrak”. Karena belum ada orang yang pernah melihat surga/neraka. Semua bersumber dari kitab suci dan riwayat dari Nabi. Manusiapun menyikapinya berbeda-beda. Ada yang percaya 100%, 50%, atau 1%. Orang yang percaya 100% tentunya akan berusaha sungguh-sungguh. Semisal, apapun kondisinya ia akan bangun sholat Subuh tepat waktu. Ia tidak menggantungkan orang lain untuk membangunkannya atau menyalahkan orang lain ketika tidak membangunkannya. Karena ia percaya benar terhadap eksistensi reward dan punishment Tuhan di kemudian hari. Untuk dunia, bukankah ia juga belajar sungguh-sungguh, datang tepat waktu ke ujian untuk mendapatkan nilai yang bagus? Andaikan reward ibadah Subuh diperlihatkan dalam bentuk materi uang/sejenisnya, mungkin manusia akan berbondong-bondong melakukannya.

Kembali ke cerita tentang Kuda. Yak tepat! Kewajiban kita adalah menyampaikan, mengingatkan, mengabarkan setelah itu selesai. Seandainya ada yang punya masalah riset kita sumbang pemikiran tentang solusinya, tidak dengan membantu membuatkannya. Kalau ada teman yang susah sholat kita ingatkan. Kalau ada yang kelihatannya butuh pertolongan kita tawarkan pertolongan. Namun ingat, kita tidak berhak memaksakan apapun dari kita bagi mereka, karena mereka sudah dewasa dan bisa memilih/memutuskan. Kecuali kepada anak-anak yang memang harus ditarik-tarik agar termotivasi. Saya dan anda bukan anak-anak lagi bukan?

 

Advertisements