Ideal: pekerjaan vs gelar

fasting_sweet1

Dengan tergesa-gesa Kayu berkemas-kemas dan memasukkan beberapa artikel ke dalam tas. Sebenarnya dia tahu kalo hal itu sia-sia karena artikel itu seringkali tetap utuh bahkan tidak keluar dari tasnya sampai keesokan harinya. Setelah memastikan komputernya off, ia mematikan lampu dan menutup ruangan.  Rutinitas yang biasa dilakukannya sebagai penghuni terakhir ruangan itu. Seringkali Sammy teman satu ruangannya berujar,“ Kayu, just leave your computer on so you can access it via VPN from your home, in case you need it…”.  “I’d like to, but I’ll rarely access it from home since I have spent my whole day sitting in front of this compie…”, jawab Sakayu. Ya, para siswa dan staff di universitas ini seringkali meninggalkan komputer dalam kondisi hidup. Entah karena memang sedang menjalankan program atau malas menunggu proses booting yang kadang agak lama. Itulah paradox di negara maju…mereka suka menggembar-gemborkan slogan go green dan menyalahkan negara-negara dunia ketiga menghancurkan hutan, namun mereka sendiri membiarkan ratusan komputer dan lampu menyala di uni pada malam hari, sebagian dalam kondisi tidak terpakai. Mereka lupa, untuk menghidupkan alat-alat itu, perusahaan listrik harus membakar berton-ton batu bara, mencemari udara dengan karbon!

Setengah berlari Kayu menuruni tangga lima lantai dan keluar menyusuri jalan di tepian danau di samping school-nya. Menurutnya gedung tempatnya bekerja paling ideal. Beberapa langkah dari ruangannya di lantai lima, pemandangan yang elok pusat kota dan danau biasanya dilihatnya dari verandah jika sedang buneg dengan algoritma yang ia buat. Belum lagi fasilitas extra berupa semerbak bau masakan dari berbagai negara setiap jam 12 siang selalu menghampiri ruangannya. Favoritnya adalah bau masakan cina dan India…hmm smell delicious… eiiits tapi ingat puasa…ya ini Ramadan dan karena itulah dia tergesa-gesa meninggalkan office-nya agar tak ketinggalan mengikuti rutinitas sore hari antri buka gratis yang diadakan asosiasi pelajar muslim. Tidak boleh ada kata terlambat menghadiri acara gratisan dalam kamusnya…maklum anak kos..

Dengan sigap dia menghindari patukan Chenonetta jubata, bebek lokal Australia yang sedang menjaga anaknya makan di tepi danau. Tidak bebek tidak manusia, jika merasa anaknya terancam maka sang ibu akan segera menyerang si penebar teror. Bebek liar ini hampir tersebar merata diseluruh penjuru negeri kecuali di tengah gurun benua itu. Bangsa aves itu sering disebut sebagai duck wood karena biasa bertelur di pangkal pohon lapuk atau batang pohon. Pikiran kriminilnya sering kali berharap menemukan telur di seputaran danau untuk dibikin omelet. Exotic dishes pikirnya…namun kalau mengingat denda yang harus dia bayar seandainya ketahuan petugas segera saja dia membatalkan rencananya. Dalam benaknya ia sering kali berpikir, enak bener burung di negeri ini, semua dilindungi dan warganya pun sadar ikut melindungi mereka. Apa iya besok anak cucuku harus kesini hanya untuk melihat burung prenjak, nuri, tekukur, atau gagak yang hidup di alam bebas…

Setelah tujuh menit berjalan, nampak terpal biru dihamparkan di atas rumput disamping gedung ruang pemujaan bersama. Multifaith center memang dipakai untuk ibadah bersama semua umat abrahamic maupun yang non-abrahamic. Yah..salah satu cermin toleransi beragama di negeri ini, walaupun dibelahan dunia yang lain kerusuhan bernuansa SARA masih saja terjadi…masih belum terjawab apakah keributan itu karena masalah perbedaan Tuhan ataukah masalah ekonomi belaka, atau keduanya atau bahkan bukan disebabkan oleh kedua masalah itu? Manusia memang kadang membingungkan.

Beberapa rekan senegara dan serumpun telah terlihat bergerombol mengantri. Kayu pun segera bergabung, basa-basi sambil mengobrolkan kegiatan mereka hari itu. Ketika azan magrib berkumandang kerumunan masa itu segera berlomba mengambil segelas air dan beberapa butir kurma untuk membatalkan puasanya. Kalau lagi beruntung tersedia beberapa kue kecil yang pastinya segera ludes dimangsa para pemburu ifthar. Setelah membatalkan puasa orang-orang segera mengambil air wudlu dan sholat magrib. The real dish is after Magrib prayer! Setelah magrib, antrian terbentuk untuk mendapatkan sepiring nasi plus lauknya. Kalau mengingat ini, seringkali Kayu sadar bahwasanya manusia bisa hidup cukup hanya dengan dua piring nasi sehari…trus kemana larinya puluhan juta dollar uang rakyat yang dikorupsi? Tak habis pikir… mereka tak mungkin menggunakannya untuk makan saja. Investasi buat keturunannya kah? Mungkin mereka lupa telah menumbuhkan daging anak turun mereka dengan barang yang terlarang, haram… Mereka menghancurkan generasi penerusnya sendiri…

Sepiring nasi dan segelas air di tangan…Kayu segera menebar pandangan mencari tempat lesehan untuk makan. Cuaca hari itu cerah sehingga mereka bisa makan di rerumputan dan bukan di dalam gedung. Pandangannya tertuju ke arah sisi kosong di samping bapak-bapak eksentrik. Umurnya mungkin sekitar 50 an lebih, rambutnya sebahu berwarna putih keperakan dan sedikit berombak. Sekilas mirip si jenius Einstein dari kejauhan dengan pakaian casualnya. Kayupun menghampirinya. “Kandidat teman ngobrol yang ideal sepertinya,” gumam Kayu dalam hati.

“May I sit here Sir?” tanya Kayu dengan sopan. Pria tua itu mendongakkan wajahnya melihat Kayu.

“Oh…sure, why not… have a sit please..,” jawab pria itu ramah.

Kayu pun mengambil tempat duduk di samping bapak itu. Seperti biasa, pertanyaan standar pun ia keluarkan.

“How are you today sir – what’s your name – where are you come from?”

Pria itu tersenyum mendengar berondongan pertanyaan Kayu. Ia menghentikan sejenak kegiatan makannya untuk menjawab pertanyaan Kayu. “I am good, I’m Tomo from Indonesia, what about you?

“Oalah ternyata sama wong Indonesia tho…saya Kayu pak Tomo, dari Jogja…Bapak dari mana?”

“Dari Jakarta nak Kayu, saya sudah hampir sepuluh tahun disini…anak saya yang bungsu sudah mau selesai kuliah..,” jelas pak Tomo.

Pak Tomo bekerja di sebuah perusahaan alat kesehatan sebagai online service engineer untuk kawasan asia pacific. Tugasnya memberikan technical support terhadap produk perusahaannya yang dipakai di rumah sakit seantero Asia Pasifik. Apabila kerusakannya ringan maka dia cukup memberikan instruksi ke local engineer, namun apabila mereka tidak bisa baru dia turun ke lapangan. Hampir semua produk perusahaanya dia kuasai, namun specialisasinya adalah di piranti imaging cardiovascular. Alat itu baginya hanya seperti membaca garis tangannya saja.

“Device sekarang sekarang pinter-pinter nak Kayu, kalau ada kerusakan langsung kirim email ke server kami. Jadi kami tinggal instruksikan ke local engineer untuk memperbaikinya. Selain lebih cepat penanganannya, biasa servis pun jadi lebih murah”. Ujar pria setengah baya ini.

Dan ceritapun mengalir sembari menikmati hidangan buka puasa. Pak Tomo, ia menceritakan bagaimana mula ia menjadi dirinya saat ini. Semasa muda ia memang hobi mengotak-atik piranti elektronik. Piranti-piranti elektronik rusak menjadi benar kembali ditangannya. Ketika kuliah semester awal ia menyempatkan diri belajar beberapa bahasa asing. Dan kesempatan pun datang, ketika ia ditantang untuk memperbaiki piranti medis sebuah rumah sakit. Teknisi sebelumnya gagal memperbaikinya. Dengan berbekal kemampuan bahasa asingnya ia mempelajari buku manual perangkat medis tersebut. Akhirnya piranti medis itupun berhasil ia perbaiki. Tawaran pun datang dari perusahaan piranti medis itu, padahal ia belum juga selesai kuliah. Keputusan besar pun harus ia ambil. Meneruskan kuliah atau bekerja di bidang yang ia sangat sukai. Setelah berpikir masak ia pun memimilih meninggalkan bangku kuliah dan memulai karirnya sebagai teknisi piranti kesehatan. Berkeliling Indonesia, dari rumah sakit ke rumah sakit. Usaha dan nasib akhirnya membawanya ke Australia, bekerja di salah satu industry kesehatan besar di dunia.

“Jadi bapak tidak punya gelar sarjana apapun?” tanya Kayu penasaran.

Sambil terkekeh pak Tomo menjawab,”buat apa gelar nak Kayu. Pada akhirnya gelar dan pendidikan yang kita punyai untuk mencari kerja. Sedang saya tanpa gelar pun bisa bekerja. Dan yang paling penting nak Kayu, saya bisa bekerja di bidang yang memang saya sukai. Saya menikmati pekerjaan saya.”

Selepas pembicaraannya itu, Kayu merenungkan kata-kata pak Tomo. Sesuatu yang tak asing buatnya, berasa de javu. Dulu ia pernah mempunyai pemikiran yang sama, berkeinginan bekerja di bidang yang di sukainya. Namun, hidup tak selalu ideal. Tuntutan hidup perlahan mengubur keinginannya itu, membuatnya harus bersekolah sampai saat ini, mengejar gelar tertinggi. Kadang ia berpikir sebegitu pentingkah gelar baginya. Namun, ia masih merasa beruntung. Paling tidak, ia masih memiliki passion terhadap yang ia kerjakan saat ini. Beberapa kali ia bertemu dengan orang yang kuliah setengah terpaksa, mengikuti kehendak orang tuanya. Bahkan jurusan yang diambilpun harus sesuai keinginan orang tua. Sungguh tak terbayangkan menjadi orang dalam posisi tersebut.

Beruntunglah orang-orang yang berani mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Bill Gate, Steve Job, Jerry Yang, dan banyak orang besar lainnya berani mengambil resiko ketika membuat pilihan dalam hidupnya. Resiko yang terukur tentunya. Untuk menjadi orang sukses ternyata gelar tidak selamanya penting. Bagaimana denganmu Kayu? Hanya perlu keberanian bukan?

Advertisements