Panggil aku sayang!

Kangen! Rasa itu tiba-tiba muncul. Padahal belum ada sebulan berlalu meninggalkan Jogja. Tapi rasa itu tak terbantahkan, tiba-tiba saja hadir. Entah mengapa, sejauh apapun saya pergi, keinginan untuk kembali begitu kuatnya hadir di benak. Namun, lima ribu kilometer bukanlah jarak yang begitu mudah untuk di tempuh. Perlu hampir dua puluh empat jam untuk menempuhnya dari pintu ke pintu. Belum lagi harga tiket yang selangit!

Akhirnya, sekelebat ide muncul di otak saya. Aha! Ternyata sekarang saya baru ingat sedang duduk di depan komputer yang dilengkapi dengan internet berkecepatan tinggi. Fasilitas yang memang disediakan untuk mahasiswa di universitas ini. Tujuannya sih mulia, untuk mendapatkan informasi seluas-luasnya demi kepentingan riset. Tapi hari ini, tak apalah nakal sedikit.Saya ketikkan beberapa kata kunci di Google dan abrakadabra! Alamat website yang menyediakan streaming radio muncul di layar LCD. Acara hari ini adalah mengobati kangen dengan mendengarkan salah satu stasiun radio di Jogja.

Suaranya renyah penyiar terdengar, mengalir membawakan acara. Tiba-tiba perhatian saya tertarik ketika mendengar sang penyiar dan rekannya membawakan topik bahasan diskusi. Topik hari ini adalah panggilan buat pacar. Saya hanya tersenyum geli ketika para pendengar yang berpartisipasi menyampaikan panggilan buat pacarnya masing-masing. Ada yang memanggil “pipi-mimi”, “panda-manda”, “cancant” bahkan ada yang sudah “ayah-bunda” atau “papa-mama”. Hadeeh!!? Nikah aja belum!!? Kadang saya tidak habis pikir dengan gaya pacaran anak modern. They’ve gone too far… Okelah, paling tidak saya tahu istilah-istilah anak jaman sekarang. Paling tidak update informasi anak kuliahan jaman sekarang. Duh, ko jadi berasa tua ya..

Akhirnya sang penyiar mendatangkan seorang nara sumber untuk di wawancarai seputar urusan panggil-memanggil. Seorang perempuan yang sudah berkeluarga. Dari suaranya saya menebak ia adalah ibu-ibu yang umurnya di atas 30 tahunan. Apa yang disampaikannya sungguh membuat saya terhenyak.

Penyiar (P): “Hallo mbak, gimana kabarnya?”
Nara sumber (NS): “Baik, terima kasih.”
P:  “Kalau boleh tahu, panggilan sayang ke suami apa ya?”
NS: “Semenjak pacaran, saya manggil suaminya Nyet, dan dia manggil saya Nyuk. Maksudnya untuk lucu-lucuan dan biar mesra saja sih mbak. Hahaha”
P: “Hahaha…lucu juga ya mbak. Apakah panggilannya masih dipakai sampai sekarang?”
NS: “Wah masih donk mbak, kan panggilan sayaang!..hahaha.
P: “Apakah ada yang keberatan dengan panggilan itu mbak?”
NS: “Orang tua dan mertua sih mbak yang keberatan. Mereka bilang ya mbok berhenti menggunakan panggilan Nyet dan Nyuk itu, apalagi sudah punya anak. Mereka bilang gak pantes ngomong begitu di depan anak.”
P:  “Trus gimana mbak?”
NS: “Kalo kita sih terus aja. Kan maunya terus mesra gitu loh..hihihi.”
 

Gubrax glundung-glundung!!!… Saya hanya bisa mengelus dada saya yang rata ini, sambil geleng-geleng (bukan karena tripping lho ya!) mendengar wawancara yang barusan saya dengar.

To some extend, saya masih bisa memahami penggunaan nama panggilan. Di kultur jawa, kita mengenal istilah “parapan”. Nama/julukan yang disandangkan oleh seseorang berdasarkan ciri-ciri fisik atau sifat/perilakunya. Semisal orang bernama Budi Santoso mempunyai postur tubuh yang tidak terlalu tinggi, orang kemudian memanggilnya “cendhik”, “cebol” atau “kunthet”. Atau semisal ia mempunyai kepala yang besar dipanggil “bendhol”, atau kalo badannya gemuk bisa jadi dipanggil “Bagong”, and so on. Parapan ini biasanya disandangkan oleh teman-temannya, tapi tidak sedikit yang mendapat legal formal dari saudara bahkan orang tuanya.Saya tidak menyangkal bahwa penggunaan nama parapan, di satu sisi memang digunakan untuk menambah keakraban. Dalam konteks ini, walaupun sebenarnya kurang sreg juga, saya masih bisa memahami penggunaan. Namun disisi lain, nama parapan sering juga digunakan untuk sarana bullying, ini yang tidak pernah saya sukai.

Dalam konteks keluarga, penggunaan nama panggilan/parapan terutama yang mempunyai konotasi negatif menurut saya tidaklah tepat. Memanggil suami/istri atau orang yang dikasihi dengan Nyet (moNyet) dan Nyuk (muNyuk) sungguh tidak masuk ke akal saya. Keluarga adalah tempat untuk mengajarkan norma-norma, salah satunya untuk saling menghargai antar anggota keluarga. Entah persepsi apa yang muncul di benak anak-anak ketika orang tuanya saling memanggil dengan nama panggilan yang buruk. Mungkin, orang tua bermaksud menanamkan konsep egalitarian dalam keluarga, tapi yang tumbuh bisa jadi adalah tidak adanya rasa hormat kepada orang tua atau anggota keluarga yang lain. Suatu saat, bisa jadi nasehat dari orang tua tak akan mereka dengar lagi. Atau, bisa jadi hal itu menjadikan sang anak menjadi lebih mudah memanggil teman-temannya dengan panggilan yang buruk, karena mereka menganggap itu adalah hal yang biasa. Perlahan empatipun mati..

Dan nama adalah sebuah doa. Itulah selama ini yang saya pahami. Orang tua pastilah berusaha memberikan nama yang paling baik bagi anaknya. Ada sebuah harapan dan doa di sana. Ketika orang tua menyandangkan nama Budi Santoso, mereka berharap anaknya mempunyai budi pekerti yang luhur dan mempunyai fisik yang sehat. Tentunya mereka tidak akan rela jika ada orang memanggil anaknya dengan panggilan Nyet/Nyuk. Bukankah mereka tidak menginginkan anaknya berperilaku seperti monyet?

Right time, right place. Saya mengenal beberapa orang yang bersahabat begitu dekat. Sohib, sahabat karib, konco kenthel, atau apalah istilahnya. Semasa bujang, mereka saling memanggil dengan nama panggilan yang aneh-aneh. Namun hal yang saya apresiasi dari mereka adalah ketika sudah berkeluarga, mereka cukup paham untuk tidak menggunakan nama panggilan itu ketika sedang berinteraksi di acara keluarga. Mereka memanggil satu dengan yang lain dengan sapaan Pak/Bu, Om/tante, mbak/mas, kakak/adik, abang/teteh, dll. Itu adalah salah satu cara untuk mengajarkan rasa respek antar anggota keluarga/teman.

Tak ada seorangpun yang suka jika dipanggil dengan julukan-julukan yang jelek. Seorang istri pasti ingin disanjung begitu juga suami. Telinga berasa mengembang ketika dipanggil “honey”, “sayang”, “cinta”, “darling” ataupun “dinda”. Bahkan, kesan angker pria bertatopun luruh ketika dia memanggil istrinya dengan kata “honey”. Jadi, kenapa kita tidak memanggil teman/saudara/istri/suami kita dengan panggilan yang baik? Stop saying bad nick name! Panggil aku sayang!

nicknames

Glossary:
Munyuk = Monyet = Monkey 
 
QS(49) 11: “janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk”.
 
pict from: http://theinternetbachelorette.wordpress.com
Advertisements