Kucari bahagia

happiness
Menapak..
Satu demi satu jejak terukir
Dalam pengembaraanku mencari arti bahagia
 
Aku bertemu singgasana
Kulihat orang berlenggok ramai di lantai dansa
Aku mendengar tawa berderai
Ketika gelas berdenting
Anggur dan caviar disajikan
Di sela celoteh perihal kekuasaan, kekayaan, dan kecantikan
Aku melihat keriangan dari wajah-wajah bermake-up tebal dan berbaju mahal
Namun, dalam ramai nuraniku bertanya
Akankah bahagia tetap ada
Ketika baju telah ditanggalkan dan make-up dihapuskan?
Aku bukan bagian mereka
 
Petani tua menghentikan langkahku
Mengajakku duduk di pematang sawah
Wajah ramah dengan senyuman tersungging
Inikah hidup yang bahagia?
 
Saat hendak pergi..
Petani tua berujar bijak
Anak muda…
Engkau bisa bahagia dengan penerimaan
Namun engkau bisa lebih bahagia
Apabila bisa membuat kebahagiaan untuk sesama
 
Aku berlari ke reruntuhan
Kujumpai wajah-wajah dingin dan putus asa
Aku membuat api
Kuramu hidangan untuk mereka
Saat kehangatan datang
Kulihat senyum-senyum yang mengembang
Tulus..
 
Riya’ meracuni kebahagianku
Akupun berlari menjauh
Seribu pertanyaan tentang bahagia
Kembali menggelayuti benakku
Akankah bahagia hanya datang
Ketika samudra tenang melihatku
Ketika badai luruh menjumpaiku
Ketika bulan dan bintang tersenyum menatapku
Ketika awan teduh memandangku
Ataukah…
Ketika bumi memeluk jasadku?…
 
Aku menjumpai kebahagiaan..
Dalam tetesan air mata keinsyafan
Pengampunan akan dosaku yang diterima
Bagiku, bahagia yang hakiki adalah
Ketika suatu saat aku menatap Wajah-Mu
Engkau tak memalingkan WajahMu dariku
Dan Engkau panggil aku “Wahai jiwa-jiwa yang tenang..”
 
 
Advertisements