Carita bercerita

carita sunrise1

Awalnya setiap kali diajak ke berlibur ke pantai Kayu pasti berpikir seribu kali. Apalagi kalau bukan panas yang menyengat. Takut item! Padahal itemnya sudah tak mungkin nambah lagi. Sudah pol! Maksimum! Sebenarnya salah Kayu sendiri. Ketika pergi ke pantai pasti siang-siang. Bagaimana panasnya tidak menyengat dan membakar kulit dan kepala!? Namun setelah terakhir kali ia pergi ke Anyer, persepsinya tentang pantai mulai berubah.

Waktu itu perjalanan benar-benar direncanakan. Berangkat siang dengan asumsi sore sampai ke Pantai Carita supaya bisa menikmati sunset disana. Malamnya menginap dan esok paginya menikmati sunrise. Rencana sudah siap dan tinggal dilaksanakan.

Akhirnya Kamis siang setelah makan perjalanan dimulai. Mobil menyusuri jalur Serang-Pandeglang. Jalan sampai kota Pandeglang lumayan bagus, lumayan bisa ngebut. Kecuali kalau terhalang  bus besar. Karena jalan hanya dua lajur maka harus sangat berhati-hati ketika menyalipnya. Jika tidak, kecelakaan maut bisa terjadi setiap saat. Sepanjang jalan ke Pandeglang banyak kios-kios tradisional berjualan buah-buahan local. Wah ada buah Kecapi!!… Sewaktu bocah, Kayu menjepit buah kecapi di pintu agar bisa dibuka kulitnya.  Kayu ingin menepi dan membeli, tapi ia bingung nanti mau membukanya dimana. Masak harus dijepit di pintu mobil? Akhirnya keinginannya diurungkan sementara. Mungkin pas waktu pulang saja.

Diperlukan waktu sekitar satu setengah jam untuk sampai ke kota Pandeglang. Agak tersendat sedikit ketika melewati pasar, namun selebihnya lancar. Selepas kota Pandeglang jalannya mulai menyempit dan berlubang. Daerah pegunungan menyebabkan banyak tanjakan dan kelokan. Ketika bersimpangan dengan kendaraan dari arah berlawanan, kadang mobil harus keluar dari badan jalan. Gimana lagi daripada spion kena atau baret-baret. Ketika sedang enak-enaknya menyetir, tiba-tiba  dari arah berlawanan muncul dua orang polisi dengan mengendarai motor besar. Dengan arogannya memberi instruksi supaya Kayu menepi. Oh ternyata ada satu sedan pejabat di belakangnya. Sengaja Kayu tidak sepenuhnya menepi. Tahu ada mobil pejabat di belakangnya, Kayu langsung mengembalikan posisi mobil ke badan jalan, agak ke tengah. Jalan umum untuk kepentingan bersama. Rakyatnya udah bayar pajak untuk bikin jalan malah disuruh minggir. Pejabatnya ga sadar apa!!? Dia udah digaji dengan uang rakyat. Arogan sekali! Belum lagi uang pajak yang ditilepnya. Dasar!!”

Selepas insiden kecil itu, perjalanan kembali menyenangkan. Pemandangan gunung dengan vegetasinya yang hijau, gemericik air di kanan kiri jalan membuat pikiran kayu kembali fresh.  Setelah melintasi punggung gunung, jalanan mulai menurun pertanda daerah pantai sudah dekat. Kanan-kiri jalan yang tadinya di dominasi pohon-pohon, mulai berganti dengan rumah-rumah. Peradaban mulai kelihatan.

Akhirnya jalan berujung ke jalur Anyer-Cilegon. Jalan mulus kembali! Pantaipun mulai kelihatan. Tujuan Kayu adalah villa Mutiara Carita. Kompleks mutiara carita seperti kompleks perumahan. Berisi villa-villa yang disewakan oleh pemiliknya. Lingkungan cukup bersih, nyaman, dan aman. Bangunan villa di dominasi dengan struktur kayu menjadikan kesan etnik begitu kental. Jalan di tengah komplek cukup lebar dengan petunjuk arah yang jelas.

Sekitar jam empat sore Kayu sampai di villa yang dituju. Pak Man sudah membersihkannya sehingga tinggal menggunakannya. Selepas sholat Ashar Kayu bergegas ke pantai yang terletak sekitar 50 meter dari villa tersebut. “Ini baru pantai!” gumamnya dalam hati. Pantainya bersih banyak vegetasi dan tidak terlalu ramai. Lebih mirip pantai pribadi. “Tidak sia-sia aku kesini!” Teriak Kayu sambil melompat menceburkan diri ke air pantai yang jernih dengan pasir putihnya.

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements