Balada Mamee & Coklat Jago

Lima ribu kilometer dari rumah. Sunyi sepi sendirian di office. Summer break membuat kampus serasa milik sendiri. Perutpun keroncongan menahan lapar. Lengkap sudah suasana membuat pikiran melayang-layang.

Membuka laci berharap si bungkus kuning itu masih ada. Oh! Tidaaaaak..!!? Hanya bungkus besarnya saja yang ada, sedangkan isinya kosong melompong. Lemas, hari ini terpaksa harus gigit jari sambil mengelus perut yang mulai bersimponi. Ini berarti besok harus ke Pecinan untuk membelinya lagi. Stok snack untuk pertolongan pertama pada kelaparan!

Ada cerita menarik tentang si bungkus kuning. Ow…ow… siapakah gerangan dirinya? Sponge bob kah? No! Memang sponge berwarna kuning dan bisa untuk ganjal perut dikala lapar. Namun ganjal perut diluar, diikat erat dibalik ikat pinggang. Si kuning yang saya ceritakan adalah…drum roll…Mamee!

mamee2

Anak-anak yang hidup di seputaran tahun 90 an pasti mengenal snack ini. Dengan dua puluh lima rupiah mereka sudah bisa merasakan kelezatannya. Kriuk! Suaranya nyaring ketika gigi geligi mengunyah snack berbentuk mi kering ini. Vetsinnya yang banyak mungkin yang membuat anak-anak begitu menyukainya. Gurih asin rasanya.

Entah kenapa snack ini kemudian tak lagi diproduksi. Dengar-dengar dulu karena diisukan mengandung produk babi. Isu yang sangat sensitif di Indonesia yang mayoritas muslim. Entahlah…mungkin persaingan usaha menyebabkan orang-orang menghalalkan segala cara, bahkan dengan menyebarkan berita tak benar, fitnah dan fietnam. Setelah itu, yang jelas, Mamee tak pernah dijumpai di toko manapun. Ada produk serupa dengan brand Krip-Krip dan Anak Mas. Namun, Mamee tetap tak tergantikan. Jiaaah!

Cinta kan menemukan jalannya. Itulah yang saya percaya (sok puitis). Surprise…surprise!…Ketika menginjakkan kaki di benua Kanguru, secara tak terduga saya menemukan Mamee di salah satu toko di Pecinan. Satu bungkus besar berisi 10 bungkus kecil Mamee dihargai 1.99 dollar. Cukup murah untuk snack yang dijual di Australia. Mamee yang ini buatan Malaysia dengan logo Halal di bungkusnya, membuat tenang ketika memakannya. Ukurannya cukup besar, mungkin disesuaikan dengan ukuran perut orang bule kali ya.

coklatjagoNgomongin tentang Mamee membuat saya ingat satu lagi snack favorit. Coklat Jago! Masih lekat di memori semasa kecil naik sepeda 6 kilometer pulang pergi untuk sekedar mendapatkan sebatang coklat Jago. Biasanya coklat Jago disimpan di toples-toples besar di toko. Di display di depan supaya anak-anak yang masuk toko terpesona untuk membelinya. Sebatang coklat dihargai 100 rupiah. Cukup murah dibandingkan dengan coklat Silver Queen. Namun entah mengapa saya begitu menyukainya. Batangan coklatnya tipis dibalut dengan bungkus kertas dengan warna dominan putih dan orange dengan logo ayam jago di salah satu ujungnya. Untuk memakannya, saya potong coklat mengikuti alur yang ada dipermukaannya. Ketika masuk ke mulut, potongan coklat lebih banyak dikulum supaya tak lekas habis sambil menikmati sensasi rasa pahit-manis nya. Heem..nikmat bener ketika coklatnya lumer di mulut.

Entah sejak kapan, namun ketika meneruskan sekolah di kota lain saya tak pernah lagi menjumpainya. Nasibnya mirip-mirip Mamee. Lenyap tak berbekas (atau mungkin saya yang tak sungguh-sungguh mencarinya). Dan di suatu ketika saya iseng browsing internet mencari dimana si coklat Jago berada. Alhamdulillah!…Akhirnya sayapun menemukannya. Orderpun dibuat. Satu kilo coklat Jago untuk memuaskan kerinduan saat pulang ke Indonesia!

Si Coklat Jago yang baru banyak berubah. Ukurannya lebih kecil, dibungkus dengan plastik bukan lagi kertas seperti dulu. Ada dua rasa original dan Jago crispy. Perlahan saya buka bungkus si coklat Jago dan menggigitnya, merasakannya lumer dalam mulut. OMG! It was too sweet! I couldn’t get any bitter taste. A bit disappointed…but at least I could taste the new Coklat Jago. The kids loved them anyway… Akhirnya sekilo Coklat Jago pun lenyap tak berbekas!

Advertisements