Loyang yang berdebu

wanita tua“Sudah Kayu, taruh aja piringnya. Nanti biar bi Anah yang membereskannya,” parau suara ibu kepada Kayu siang itu. “Biar bu, cuman sedikit kok. Sekalian saya bereskan, biar rapi,” balas Kayu sambil tersenyum ke arah ibu yang masih duduk di meja makan. Kayu tahu, bi Anah hanya datang pagi dan sore hari. Jadi piring kotor akan teronggok di tempat cucian sampai waktu itu. Biasanya ibu tak tahan dan mencucinya sendiri. Kayu tak akan membiarkannya terjadi.

Sembari mencuci piring, Kayu mengedarkan pandangan ke seluruh ruang dapur. Agak sedikit berubah walaupun secara keseluruhan masih sama. Namun jelas terlihat banyak piranti masak yang berdebu, sepertinya lama tak digunakan. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah loyang penggorengan dari baja hitam. Seperti piranti yang lainnya, Loyang itu juga berdebu. Namun ia masih ingat betul, setahun yang lalu ia membelikan loyang itu sebagai hadiah ulang tahun ibunya. “Loyang dari bahan ini lebih aman Kayu, tidak seperti loyang anti lengket, materialnya karsinogen,” jelas ibu. Walaupun tidak mengenyam bangku kuliah, ibu sangat hobi membaca. Hingga trend material piranti memasak pun ia tahu, tanpa harus kuliah di jurusan metalurgi. “Nanti kalau kamu pulang, ibu buat masakkan yang enak dengan loyang ini ya Kayu,” ujar ibu berseri-seri. Kayu tersenyum. Dalam hatinya ia merasa malu. Setelah disekolahkan dan berbagai pengorbanan ibunya selama ini, ia baru dapat membelikan sebuah loyang. Sebuah balasan yang teramat kecil. Namun lihatlah, ibunya begitu suka cita. Tak melihat dari nilai barangnya, namun perhatian dari anaknya saja sudah cukup baginya.

“Iya bu, insyaAllah kalau pulang kesini saya bawa Kirani dan Renjani. Biar mereka merasakan lezatnya masakan Eyangnya. Kirani doyan pedes lho bu, pasti ia sangat suka garang asem ibu,” jawab Kayu dengan pesan masakan terselubungnya. Dasar!

Namun,malang tak dapat dicegah dan datang begitu cepatnya bahkan sebelum Kayu menunaikan janjinya menengok ibu bersama dengan keluarganya. Penyempitan pembuluh darah otak yang terlambat diketahui ibunya berkembang menjadi penyumbatan. Ketika mengambil wudlu untuk sholat Subuh pembuluh darah itu tak kuat menahan tekanan darah yang meninggi secara mendadak. Pecah seketika. Darah perlahan menyebar membasahi otak sebelah kiri. Basah oleh darah, sinapsis yang menghubungkan neuron-neuron dalam otak kehilangan kemampuannya untuk menyampaikan sinyal listriknya yang berisi informasi. Bagian tubuh sebelah kananpun mulai tak merespon perintah dari tuannya. Saat itu ibu Kayu masih sadar, dikiranya hanya vertigo atau sakit kepala biasa. Diselesaikannya wudlunya dan memanggil suaminya untuk menuntunnya ke kamar. Hanya ada satu dalam pikirannya. Ia belum sholat shubuh! Darah semakin membanjiri permukaan otaknya. Tak kuasa berdiri ia mencoba duduk, menegakkan sholat subuh dalam kesadarannya yang mulai memudar. Ia coba lafalkan takbiratul ihram, namun yang keluar hanya desau suara yang tertahan. Namun ia tak peduli. Ia teruskan sholat shubuhnya walaupun dengan isyarat mata dan tangannya. Seandainya ia dipanggil Subuh itu, ia hanya ingin Tuhannya tahu bahwa ia tak pernah lalai dalam sholatnya. Saat salam ia lantunkan, darah genap sudah menenggelamkan sebagian lobus otaknya kirinya, menyebabkan oksigen tak lagi sampai ke sel-sel yang membutuhkan. Sel-sel itupun kemudian mati membuat kesadarannya semakin menghilang, ketika sayup-sayup ia melihat suaminya yang kembali dari masjid panik melihatnya. Setelah itu gelap…

Tiga hari sesudah itu Ibu Kayu terbangun diruangan yang sama sekali asing baginya. Ia merasakan pusing yang hebat dikepalanya. Selang dan kabel-kabel tertancap di tubuhnya. Ia mencoba meronta melepaskannya namun apa daya tangannya terikat kuat di tempat tidur. Samar ia melihat suster datang menyuntikkan sesuatu, kemudian gelap seketika. Hari keempat. Ia merasakan tangan hangat memijat kaki dan tangannya. Ia membuka mata, melihat wajah-wajah yang tak asing baginya, namun ia tak sanggup mengingat mereka. Ia mencoba bertanya, namun mulutnya benar-benar terkunci, tak sanggup mengucapkan apapun. Akhirnya meledaklah tangisnya. Tanpa suara, hanya air mata yang begitu deras mengalir keluar. Ketika tangisnya mereda, wajah-wajah itu mengajaknya bicara, memperkenalkan diri sebagai anaknya, suaminya, cucunya, menantunya, saudaranya, temannya, tetangganya. Banyak… ia tak sanggup mengingat semuanya. Lupa seketika.

Tuhan masih memberikan kesempatan ibu Kayu. Dua minggu kemudian ia sudah sadar penuh, walaupun ia masih lupa nama-nama dan tak bisa menggerakkan anggota badannya sebelah kanan. Kayu yang begitu ditelpon kakaknya mengenai sakit ibunya dua minggu yang lalu masih setia menemaninya di rumah sakit. Setiap kali dokter datang ke ruang ibunya, ia berusaha mendapatkan informasi detail. Segala informasi terapi bagi pasien stroke ia gali. Hanya satu keinginnannya, ibunya kembali seperti sediakala, sekecil apapun kemungkinannya. Cerita-cerita survivor stroke cukuplah  menjadi penyemangat baginya. Harapan itu masih ada…

Tiga bulan berlalu. Kayu tak lagi menemani ibunya. Ia harus kembali bekerja. Cuti tiga minggunya telah berakhir sesaat setelah ibunya diijinkan untuk dirawat di rumah. Untung kakaknya bisa menemani ibunya agak lama. Kini ibunya telah bisa berjalan kembali dan menggunakan tangan kanannya. Ia pun sudah bisa berbicara seperti biasa lagi walaupun sering kehilangan kosakata, tak mampu mengingatnya. Namun dengan kondisi seperti itu, ia tak lagi mahir memasak. Kemahiran yang selalu diagungkan oleh setiap wanita manapun, dihadapan keluarganya.

Walaupun lelaki tulen, Kayu menikmati memasak. Mempersembahkan masakan bagi orang-orang yang dicintainya mendatangkan kebahagian tersendiri. Ketika dewasa ia menjadi mengerti mengapa ibunya berusaha membuatkan makanan lezat untuk keluarganya. Ia masih ingat betul lezatnya jajanan tradisional buatan ibunya supaya ia tidak jajan diluar rumah. Klepon buatan ibunya yang empuk dengan wangi pandan dan gurihnya parutan kelapa masih lekat di memorinya. Ketika digigit di dalam mulut, gula merah cari dalam klepon akan muncrat memenuhi rongga mulut, menciptakan sensai kenikmatan yang tiada tara. Tidak cuma Klepon, ia masih ingat gurihnya serabi, harum dan manisnya pukis coklat kesukaannya, Klenyem yang gurih dan manis, Utri ubi yang hangat dan manis, dan jajanan lain yang tak mampu disebutkannya. Apabila Kayu ogah-ogahan makan, menu Garang Asem menjadi salah satu andalan ibunya untuk membuatnya bergairah. Jika mencium bau wangi ayam yang diolah dengan bumbu rempah, santan, tomat yang dikukus dengan daun pisang, selera makannya akan bangkit seketika. Kuah garang asem yang kental dengan rasa dominan asam, manis pedas jika sampai ke lidah akan memicu saraf-saraf menyampaikan informasi kelezatan ke otak yang tiada tara. Mak nyuss! Cetar membahana badai Katrina!

Namun, semua itu telah berlalu, kini sangat sulit bagi Ibu Kayu untuk memasakan makanan lezat seperti dulu lagi. Kayu paham itu, dan ia tidak berharap lebih. Apa yang telah ibunya persembahkan bagi keluarganya dan dirinya telah lebih dari cukup. Ia juga paham bahwa ia takkan pernah bisa membalasnya. Kini giliran dirinya untuk berbakti dan mengurus kedua orang tuanya.

Kayu menoleh ke arah ibunya yang bersamaan juga melihat ke arahnya. Mata mereka bersitatap. Kayu mencoba tersenyum, namun perlahan terasa basah di sudut matanya. Hatinya pun mulai memanjatkan doa-doa agar ibunya bisa kembali sehat seperti sedia kala. Get well soon mom…

Selamat hari ibu 2012!

pict from: http://www.essip.us

Advertisements