Purnama yang tak lagi sama

purnama

Jaya menatap dalam-dalam mata mata Rangga, seolah ingin mencari sesuatu didasarnya. Ia serasa tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Namun ia tahu bahwa Rangga tidak sedang bercanda. Ia telah mengenal temannya ini lama, semenjak pertama kali duduk di bangku kuliah. Masing-masing telah mengenal hitam-putih sifat mereka.

Mereka berdua, awalnya bagaikan kutub utara dan selatan. Jaya berpembawaan meledak-ledak, grusa-grusu, unorganized, dan asal dalam berpenampilan. Baju yang dikenakannya selalu tak matching. Kebalikannya, Rangga adalah orang yang kalem, santun dalam berbicara, well-organized, dan selalu berpenampilan rapi an menarik, walaupun bukan tipikal cowok metroseksual. Kegemaran pada mata kuliah yang sama, hobi, menyukai kerja di laboratorium, dan aktif di organisasi kemahasiswaan yang membuka mereka sering bersama. Walaupun kadang sering berselisih paham, Jaya begitu mengagumi sahabatnya itu. Secara tak sadar Ia menjadikannya role model, mengubah dirinya perlahan-lahan. Ia tak bermaksud mengimitasi Rangga, tapi ingin merubah beberapa sifat negatifnya. Kini ia tak lagi begitu meledak-ledak, bajunya pun agak sedikit matching. Sedikit …

Sore itu tiba-tiba saja Rangga datang ke rumahnya. Hampir setahun mereka tidak bertemu muka karena kesibukan pekerjaan masing-masing. Apalagi mereka berbeda kota sekarang. Jaya begitu terkejut ketika melihat Rangga turun dari mobil, tampak begitu berbeda dengan Rangga yang dulu. Mata Rangga tampak kuyu sedikit merah, mukanya pucat, seperti tidak tidur selama berhari-hari. Badan Rangga yang dulu berperawakan tinggi tegap dengan kulitnya yang terang, berubah menjadi begitu kurus sampai tampak tulang pipinya menonjol.

“Apakah engkau sudah memikirkannya masak-masak Rangga? Apa yang bisa kubantu? Kalau saja engkau engkau menceritakan permasalahanmu lebih awal mungkin aku bisa menyumbang saran,” Jaya memecah kesunyian sesaat setelah Rangga menyelesaikan ceritanya.. Ia tak sadar bahwa pertanyaannya sedikit menyudutkan Rangga.

“Jaya, sudah hampir satu tahun aku memikirkan masalah ini. Mencari jalan keluar, mencoba semua cara untuk memperbaiki hubunganku dengan Ratri. Siang dan malam doa-doa telah kupanjatkan. Namun, sepertinya pernikahan kami tak bisa diselamatkan,” Rangga menjawab sambil matanya menerawang ke atap .

“Tapi Rangga, kalian adalah pasangan yang serasi. Sama-sama santun dan religius, tak pernah sekalipun kulihat kalian melakukan hal yang aneh-aneh, apalagi melanggar larangan agama. Aku masih tak habis pikir kenapa kalian mau berpisah. Kalian… begitu sempurna…”

Rangga yang semula duduk bersandar meletakan kepalanya di sandaran sofa, menegakkan badannnya tiba-tiba. Sinar matanya yang tadi kuyu tiba-tiba berkilat tajam ke arah Jaya.

“Jaya!.., berhenti berpikiran bahwa kami adalah manusia yang sempurna. Itu adalah beban berat, Jay! Kami manusia biasa! Hati kami juga berbolak-balik. Jika kamu melihat kami begitu sempurna dari luar, itu memang karena kami menyimpan rapat-rapat masalah internal keluarga. Kami tak ingin mengumbar aib-aib kami sendiri. Pun juga, Tuhan masih sayang dengan kami, sehingga aib-aib kamipun ditutupNya rapat. Jay, engkau adalah orang kedua setelah keluargaku yang kuberitahu masalah ini karena engkau adalah sahabat karibku. Aku hanya ingin berbagi beban, tolong jaga rapat-rapat rahasiaku ini, Jay…”

Rangga kembali merebahkan punggungnya di sofa. Perasaaannya merasa bersalah. Ini kali pertamanya Ia membentak Jaya. Ia menutup mata dan menghirup nafas dalam-dalam, mencoba meredakan kegalauan yang membucah di dadanya.

Jaya beringsut dari tempat duduknya, berdiri mendekati Rangga yang tengah tertunduk. Sebagaimana halnya Rangga, ia juga merasa sangat bersalah. Ia duduk berjongkok di hadapan Rangga sambil memegang pundaknya.

“Sorry Rangga. Aku..aku tak bermaksud menambah bebanmu. Aku hanya tak rela melihat kalian berpisah. Tapi apapun keputusanmu, aku berharap itu yang terbaik bagi kalian,” kata Jaya dengan lirih.

Rangga mengangkat kepalanya, memandang Danajaya. Butir-butir air menetes perlahan dari matanya, seolah menggambarkan hatinya yang tengah remuk redam. “It’s okay Jay, maafkan aku juga… aku terbawa suasana hati. Aku hanya ingin engkau doakan aku dan Ratri, Jay. Semoga masih ada harapan di sisa waktu ini. Kalaupun tidak, semoga kebaikan masih ada di antara kami,”

Rangga menarik badan Jaya dan memeluknya erat beberapa saat sebelum melepaskannya kembali. “Jay, aku pulang dulu. Terima kasih sudah menjadi teman berbagi. Tolong jangan kontak aku dulu. Aku ingin menyendiri beberapa saat. Aku akan menelponmu kalo tiba saatnya… Bye.. Jay.”

Jaya menatap tubuh sahabatnya yang beranjak meninggalkan beranda. Ia melambaikan tangan ketika mobil Rangga perlahan meninggalkan pekarangan rumahnya. Sesaat setelah mobil itu menghilang di jalan raya, Jaya menatap ke langit, pandangannya menerawang. Bulan purnama sedang bulat-bulatnya terang bersinar. Bulan purnama yang sama selalu datang setiap bulannya. Tapi ia tahu, purnama itu mungkin tak lagi sama bagi Rangga dan Ratri. Jaya bersahabat baik dengan mereka berdua. Ia tak bisa membayangkan kala bertemu lagi dengan mereka dengan situasi yang berbeda. Entahlah, semoga hal itu tak terjadi…

Advertisements