Guwakan

Sehabis dari subuh dari langgar Mbah Mangun bergegas ke gandok. Ia taruh rukuh dan sajadahnya di atas balai-balai bambu dan menuju ke tungku. Tampak olehnya kayu bakarnya telah habis separuh dan api mulai menyala di luar tungku. Cepat-cepat iya dorong kayu bakar masuk ke dalam tungku. Dibukanya tutup kuali sambil melongokkan kepala untuk melihat isinya. “Alhamdulillah, sebentar lagi  matang,” gumam mbah Mangun.

Sebelum berangkat ke langgar tadi, ia mulai menanak nasi kuning. Masakan terakhir yang ia siapkan sebelum bersiap-siap berangkat ke sawah. Beberapa masakan lain telah ia siapkan sejak semalam. Hari itu, mbah Mangun berniat untuk melakukan guwakan, sedekah sawah sawah sebelum memulai panen padi. Tradisi yang telah ia lakukan semenjak puluhan tahun yang lalu. Dulu ia melakukan guwakan minta berkah kepada Dewi Sri agar panen padinya berhasil. Namun semenjak belajar agama, ia tahu bahwa berharap kepada selain Tuhan tidak dibolehkan. Kini, ia melakukan sedekah sawah dengan niat melestarikan budaya dan memberi makan ke anak-anak kecil di kampungnya. Ia begitu sayang kepada mereka. Apalagi setelah anak-anaknya beranjak dewasa dan berkeluarga.

Setelah beberapa saat menunggu ia buka kembali tutup kuali. Setelah yakin nasi kuningnya masak, diangkatnya kuali dari tungku ke dekat balai-balai. Untuk menyenangkan anak-anak kecil itu, guwakan kali ini dibuatnya spesial. Ada nasi tumpeng, ayam goreng, telor rebus, trancam, jenang katul, jadah, pondhoh dan jajan pasar. Nasi kuning yang baru diangkatnya sedikit demi sedikit dimasukannya ke dalam cetakan bambu berbentuk kerucut. Setelah penuh ia padatkan nasi itu dan ditaruhnya cetakan itu di atas daun nampan bambu yang telah dilapisi daun pisang. Dengan sedikit digoyang, ia tarik cetakan ke atas dan… terbentuklah nasi berbentuk kerucut yang menawan. Melihat usaha berhasil mbah Mangun menarik nafas lega. “Tinggal menghiasnya,” gumamnya lagi.

Mbah mangun meraih mangkok besar berisi trancam, sayuran dari kacang panjang yang diiris tipis-tipis, potongan daun kenikir dan dicampur dengan parutan kelapa muda yang telah dibumbui garam, cabe, dan gula merah yang telah dihaluskan. Orang bule mungkin menyebutnya salad, salad jawa barangkali. Diletakknya terancam sedikit demi sedikit mengitari nasi kuning. Trancam mengubah komposisi warna hidangan yang tadinya didominasi kuning menjadi berwarna. Ada hijau dan putih di sana. Setelah selesai mengatur trancam, mbah Mangun mengambil potongan ayam goreng dan di taruhnya tepat di atas trancam, berdekatan dengan nasi kuning. Tak lupa ia taruh beberapa telor rebus di sisi luar hamparan trancam, bersebelahan dengan ayam goreng. Terakhir, ia atur lintingan jenang katul, jadah, pondoh dan jajanan pasar mengelilingi sisi luar trancam membentuk benteng makanan ringan. Mbah Mangun mengusap bintik-bintik peluh di keningnya dengan lengan bajunya. “Akhirnya selesai juga, Alhamdulillaaah.” Tampak olehnya nasi kuning yang dikelilingi aneka ragam penganan yang berwarna-warni. Orang dewasa saja bakalan tertarik untuk menraihnya, apalagi anak kecil.

Ia berdiri dan meraih tudung saji bambu untuk menutup hidangan yang baru saja dibuatnya. Setelah itu Mbah Mangun bergegas ke biliknya, bersiap-siap mandi, berdandan dan berangkat ke sawah.

-oOo-

Matahari mulai naik sepenggalah. Panasnya mulai terasa membakar kulit, terutama di area persawahan itu. Beberapa sosok anak kecil tampak disana. Sarju, umurnya hampir 11 tahun.  Sedari pagi ia telah berjaga di sawahnya menghalau burung pipit yang memakan bulir-bulir padi yang telah siap di panen. Ia beberapa kali duduk dan bangun, berlari ke tali pengendali orang-orangan sawah. Ia tarik kuat-kuat tali itu membuat beberapa orang-orangan sawahnya bergoyang, menyebabkan burung-burung pipit yang hinggap di batang-batang padi beterbangan. Namun ketika ia duduk sebentar di pinggir sawah yang dinaungi pohon Munggur, burung-burung itu kembali datang. Puluhan kali ia pontang-panting menghalau burung-burung itu hingga merasanya kakinya lemas, apalagi pagi tadi ia hanya sarapan setangkai jagung rebus saja. Akhirnya ia ambil ketapel dari balik bajunya, senjata pamungkasnya. Dan mulailah batu-batu kecil meluncur ke tengah sawah sambil diiringi teriakan,”Huuuuraaaaaaa!!! Huuuuraaaa!!!!

“Sardiiii, gantiaaaan! Jangan mancing terusss!!!” teriak Sarju ke arah sungai. Di balik Pohon Munggur itu ada dua anak kecil sedang memegangi joran pancing menghadap sungai. Sardi dan Ratmi, mereka adalah adik Sarju. Sardi berumuran delapan tahunan sedangkan Ratmi sekitar lima tahunan.

“Bentar mas, ini dah mo dapat ikannya!” sahut Sardi. “Bener kan Ratmi?!” Tanya Sardi sambil menyenggol bahu Ratmi adiknya, mencari dukungan. Sebagai partner in crime sejati Ratmi pun menjawab dengan polosnya,”Iya mas Sarju, ini mo dapat ikannya.”

Kalau sudah begitu biasanya Sarju hanya bisa geleng-geleng kepala. Kedua adiknya itu memang sangat kompak. Kemanapun Sardi pergi dan apapun yang ia lakukan, Ratmi selalu mengikutinya. Sebenarnya Sarju sangat tenang kalau ada Sardi, karena bisa dipastikan ia menjaga Ratmi dengan baik. Tak perlu khawatir lagi. Ia juga merasa beruntung, ditemani kedua adiknya menjaga sawah. Kalau sedang tak ramai burung datang, ia bermain dengan kedua adiknya. Dua petak dari sawah Sarju, tampak Dino sendirian menjaga sawahnya. Kadang kalau sudah bosan ia datang ke tempat Sarju, mengajak bermain. Tapi hari itu ia memilih memanjat pohon Munggur di dekat sawahnya, tidur-tiduran di dahan yang telah ia sulap menjadi ranjang gantung, dengan menambahkan beberapa tali disana. Sekali-kali ia bangun melongok ke arah sawahnya. Kalau kumpulan burung datang, ia bangun dan menembakkan ketapelnya.

Tiba-tiba Dino bangun, menggunakan kedua telapak tangannya yang dibentuk teropong ia melotot ke sisi lain area persawahan itu. Euforia menyelimuti hatinya. Sekuat tenaga ia berteriak,”Sarjuuuuu, guwaakaaaaan!” Ia berlari kecil di dahan pohon itu bagai kera, sebelum merosot menuruni batangnya. Ketika kakinya menjejakkan tanah ia segera berlari ke arah Sarju.

“Sarjuu, ada guwakan,” ulang Dino sambil terengah-engah. “Dimana No, aku tidak melihatnya?” Sarju balik bertanya.

“Itu, di sawah mbah Mangun. Aku melihatnya dari atas pohon. Ia menggendong tenggok dengan nampan besar di atasnya. Ayo kita kesana!” ajak Dino.

“Ayo No, bentar ya tak ngajak adikku,” jawab Sarju sambil berlari ke arah sungai. “Sardiii..,Rahmiii, ada guwakan! Mau ikut tidak?”

“Mauuu masss,” jawab Sardi dan Ratmi hampir serempak. Joran pancing segera mereka tancapkan ke tanah dan berlari kea rah Sarju. Mereka berempat bergegas berlari ke arah sawah mbah Mangun.

Ketika mereka berlari menyusuri pematang mereka lihat anak-anak kecil lain berdatangan dari segala penjuru persawahan. Radar mereka begitu peka untuk urusan makan gratis!

Ketika sampai dipojokkan sawahnya, mbah Mangun meletakkan nampannya. Anak-anak yang berlarian datang mendekatinya.

“Ayo baris yang rapi, jangan menginjak-injak tanaman ya, semua pasti kebagian” kata Mbah Mangun sambil tersenyum ramah kepada anak-anak. “Ya mbaaaah,” jawab mereka serentak. Nampak Sarju, adiknya dan Dino di barisan paling depan. Mereka menelan air liur melihat makanan yang terhampar di nampan itu. Mereka semua setuju sajian kali ini sungguh sangat istimewa.

Mbah Mangun meraih beberapa batang padi yang telah bulirnya telah menguning. Dipotongnya dengan ani-ani. Di berbalik ke arah anak-anak kecil yang telah berjajar di depannya sambil berkata,”Bocah-bocah, sebelum makan, mari kita bersama-sama berdoa minta kepada Gusti Allah supaya panen kali ini berhasil. Ayo Mbah Mangun bacakan doa kalian mengaminkan ya?”

“Iya mbah,” jawab anak-anak itu. Mereka menegadahkan tangan ketika mbah Mangun membacakan doa-doanya. Setelah usai berdoa mbah Mangun mengusapkan telapak tangannya ke muka, yang ditirukan anak-anak kecil itu. Kemudian di ambilnya pincuk daun pisang dan diisinya dengan nasi lauk dan jajanan pasar. Satu persatu dibagikannya ke makanan itu  ke anak-anak itu.

“Terima kasih mbah!” seru Sarju ketika ia, adiknya dan Dino mendapatkan jatahnya. Mereka berlari kembali ke pinggir sawahnya berteduh di bawah pohon Munggur yang rindang. Mereka lahap makanan yang baru didapatkan. Makan di tepi sawah bagi mereka adalah puncak kenikmatan. Mereka berpendapat makan dipinggir sawah lebih nikmat dari hidangan di hotel bintang lima, walaupun mereka sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di hotel melati sekalipun.

Melihat nampannya licin tandas, mbah Mangun merasa sangat lega. Ia begitu bahagia melihat anak-anak kecil itu datang mengerubutinya dan makan hidangnnya dengan lahap. Ia kemasi nampannya dan bergegas pulang. Lima hari lagi ia akan memanen padinya. “Semoga semuanya lancar,” gumamnya dalam hati.

Glossary:

Ani-ani: alat pemotong tangkai atas tanaman padi yang berisi bulir-bulir

Gandok: dapur

Guwakan: tradisi sedekah sawah di jawa, biasa disebut juga methik

Pincuk: daun pisang yang dibentuk seperti mangkok. 

Advertisements