Terima kasihku untukMu

Kisah serupa ini mungkin telah datang beruang kali ke telinga kita. Namun tak ada salahnya kita mengulangnya kembali, terutama untuk diri saya sendiri yang dengan mudahnya lupa. Di masa sebelum era keterbukaan, demi memperbaiki hidupnya, seorang kenalan Rusia nekat datang ke Italia sebagai pendatang gelap. Perjalanannya begitu heroik. Untuk menghindari petugas perbatasan, ia berjalan kaki dari Rusia ke Italia di puncak musim dingin. Jangan dibayangkan musim dingin yang biasa, di Rusia suhu ketika musim dingin bisa mencapai lebih rendah dari minus 20 celcius. Cukup untuk membekukan orang yang biasa tinggal di daerah tropis seperti saya.  Jangan pula dibayangkan melintasi perbatasan antar negara seperti melintasi garis atau sungai selebar 20 meter. Para agen penyelundup biasanya menurunkan mereka di daerah terpencil yang jaraknya ratusan kilometer dari kota. Dan ratusan kilometer itu pulalah ia harus berjalan menuju kota di Italia untuk mencari pekerjaan. Dalam badai salju, kelaparan, ketakutan ditangkap petugas, dan ancaman kematian karena kedinginan.

Kisah yang sama berulang saat ini. Entah berapa kali kita mendengar kisah imigran gelap dari Afganistan, Pakistan, atau negeri-negeri lain. Mereka menjual apa yang mereka punyai di negaranya untuk biaya perjalanan dan nekat mengarungi ganasnya Samudera Hindia menuju Australia. Ingatlah cerita-serita mereka. Sebagian ditipu oleh para penyelundup. Uang mereka habis namun mereka masih tertahan di Indonesia atau tempat lain. Sebagian ditinggalkan oleh para penyelundup terapung-apung ditengah laut, dalam kapal yang kelebihan muatan. Jika nasib mereka beruntung, tim penyelamat akan menemukan mereka, namun jika tidak, mereka tinggal menunggu ajal karena kapal mereka tenggelam dihantam gelombang. Apakah jika kapal mereka sampai ke Australia perjalanan usai? Tidak! Mereka harus menempati detention center sampai waktu yang tidak ditentukan dengan dalih seleksi dan keamanan. Jika tidak beruntung, mereka bisa dipulangkan ke negaranya lagi. What a tragic story!

Kisah-kisah tersebut membuat kita menangis. Namun ironisnya, dengan mudah kita lupakan kembali. Terlena dengan pekerjaan dan kesibukan lainnya. Hal yang membuat saya sendiri sungguh sangat malu. Lihatlah, kita memang dilahirkan di keluarga yang biasa-biasa saja. Namun sepanjang usia bersama orang tua, kita belum pernah mengalami kelaparan, perang, atau bencana alam yang dahsyat. Kita bisa katakan masih hidup di atas rata-rata manusia pada umumnya. Kita bisa sekolah, berprestasi, dan mendapat beasiswa. Berbeda dengan imigran gelap, kita masuk ke negeri Kangguru ini dengan kepala tegak. Kita datang dengan pesawat terbang dan bukan dengan perahu yang kelebihan muatan. Ketika diinterogasi oleh petugas imigrasi, kita dengan lantang menyebut maksud dan tujuan saya datang ke negeri ini. Begitu menyebut bidang studi dan universitas terkemuka pemberi beasiswa, mereka berdecak kagum sambil mempersilahkan kita melanjutkan perjalanan. Walaupun jumlah beasiswa dibawah rata-rata gaji pekerja pemula di negeri ini, kita masih bisa makan dengan layak, bahkan kadang berlebih.

Ironisnya lagi, dengan apa yang kita punyai saat ini betapa banyak kita mengeluh. Kita mengeluh karena capek bekerja/belajar, mobil yang tidak up to date, bayaran yang kurang tinggi, atasan yang galak, ruang kerja yang tidak nyaman, sampai hal-hal sepele seperti badan yang kurang atletis, suara yang fals, atau perut yang buncit. Bagaikan orang yang mendaki gunung, kita adalah orang-orang terpilih yang ada di punggung gunung. Tatapan mata kita selalu ke atas, ke puncak gunung. Begitu ingin kita mencapai puncak dan tidak akan puas sebelum mencapainya. Itu tidak mengapa untuk memotivasi kita untuk berhasil, namun di saat bersamaan kita lupa bahwa masih banyak orang di dasar gunung yang kondisinya jauh lebih buruk dari kita. Ketika kita mengeluh tentang makanan yang kurang enak, ingatlah bahwa 25 ribu orang mati setiap hari karena kelaparan dan 870 juta orang tidak bisa makan dengan layak. Atau, saat kita mengeluh susahnya sekolah/riset kita, ingatlah di beberapa negara 50% penduduknya tidak punya akses pendidikan, membacapun mereka tidak bisa. Janganlah sebut mobil kita ketinggalan jaman, banyak orang bepergian masih jalan kaki. Bahkan, melihat atau naik mobilpun mereka belum pernah. Ketika dibelahan dunia sana orang-orang satu bangsa berperang, lihatlah diri kita yang dikelilingi sahabat-sahabat kita yang sangat baik hati, walaupun kadang kita mengabaikannya dan merasa sendirian.

Begitu banyak yang kita punyai, namun begitu banyak yang kita lupakan. Begitu ingin kita mengejar dunia, namun tak pernah kita merasa puas. Kekuasaan tanpa empati, kekayaan tanpa sedekah, dan nikmat tanpa  syukur hanya akan membuat kita menjadi robot atau zombie tak bernurani. Ingatlah, setiap kali kita hendak mengeluh, masih banyak orang lain yang kondisinya jauh di bawah kita. Dan ingatlah! nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan?

pic from: http://www.anngreennonprofit.com/2012/09/invest-in-thanking-your-donors.html

Advertisements