Mengejar gerhana

brisbanemorning3

Alkisah perburuan gerhana di mulai menjelang injury time. Rencana menyiapkan agenda itu jauh hari sebelumnya gagal total. Hujan sepanjang akhir minggu menjadikan saya malas keluar mencari welding glass,untuk filter kamera guna memotret gerhana. Saat itu, saya putuskan untuk melihat gerhana dari beranda di depan unit kami, dengan menikmati secangkir kopi. Rencana yang hampir pupus tiba-tiba muncul kembali ketika sepuluh jam sebelum gerhana, seorang rekan menghubungi dan mengajak untuk mengejar gerhana. Akhirnya malam itu, kami membuat 3 jenis pinhole camera dengan kardus dan pipa seadanya. Waktu menunjukkan jam 11 malam ketika kami menyelesaikan prakarya pinhole camera.

Selepas subuh kami berangkat menuju Mt Coot-tha, salah satu tempat tertinggi di Brisbane. Gerhana terjadi antara jam 6 – 7 pagi, sehingga kami memerlukan tempat yang tinggi. Walaupun disebut sebagai gunung, Mt Coot-tha bagi saya hanyalah sebuah bukit. Jauh dari sebutan gunung, karena hanya memiliki ketinggian 206 meter dari permukaan laut. Sedari kecil, di kampung halaman kami, gunung menjulang lebih dari 3000 meter.

Sekitar jam 5 pagi kami sampai di Mt Coot-tha. Ternyata kami bukan orang pertama. Ada seorang astronom amatir yang telah siap dengan teleskop seharga puluhan ribu dollar. Iri kami melihatnya. Tapi apa ada daya, kantong kami sak setebal punyanya. Akhirnya kami pasang pinhole camera di samping teleskop canggih itu. Lumayan, agak mirip sedikit karena warna pinhole camera dan teleskop sama-sama putih. Dan ternyata, sewaktu gerhana berlangsung, banyak orang yang tertipu dengan perangkat kami, dikiranya teleskop!

Kurang dari 15 menit kami selesai memasang pinhole camera. Sembari menunggu datangnya gerhana, tak kami sia-siakan untuk menikmati sunrise.

Akhirnya, tiba saat-saat yang ditunggu. Puluhan orang telah berdatangan. Tempat yang tadinya sepi mendadak menjadi ramai. Terlihat dari anak-anak sampai orang tua tampak antusias ingin menyaksikan peristiwa yang mungkin hanya bisa mereka lihat sekali seumur hidup. Tunggu! Lebih menarik! Tampak beberapa reporter berita dan jurnalis juga datang. Waaah.. ada yang tertarik dengan pinhole camera kami. Jadilah ia mewancarai salah seorang teman saya, dan mengambil gambar kami. Hahay! Mimpi jadi artis akhirnya tergapai di negeri orang!

Saat matahari tertutup bulan, semua mata tertuju ke atas. Gelap menyelimuti bumi, hawa dingin terasa menyelimuti kami. Tampak sekumpulan burung beterbangan seolah mengira senja telah datang. Mistis…Dulu, dikampung halaman kami, jika terjadi gerhana para leluhur memukul lesung dan kenthongan. Mereka mengira raksasa memangsa matahari/rembulan. Suara gaduh lesung dan kenthonganlah yang akan memaksa sang raksasa memuntahkan matahari/rembulan.

Namun kami, anak-anak keturunan mereka yang telah makan bangku sekolah tahu bahwa itu hanya kejadian alamiah biasa, ketika bulan atau bumi saling menghalangi sinar matahari. Tanda-tanda kekuasaan Sang Pencipta, membuat kamipun bersujud dalam Khusuf.

Advertisements