Artificial love

Hujan masih turun dengan derasnya malam itu. Waktu hampir jam 10 malam ketika Rakyan sampai di depan gerbang rumahnya. Dengan setengah berlari ia membuka pintu gerbang dan kembali ke dalam mobil. Kalau pulang malam ia harus membuka gerbang sendiri, karena Mbok Sanem pembantu rumahnya sudah pulang jam 6 sore tadi. Rakyan tidak nyaman ada orang asing dirumahnya malam-malam, jadi ia memilih menggunakan jasa pembantu cabutan, datang pagi pulang sore.

Setelah memarkir mobilnya di garasi ia masuk ke dalam rumah. Di lemparkan tasnya ke sofa sedang dia sendiri langsung ruang laundry. Dilepaskannya kemeja dan dan diraihnya handuk untuk mengelap rambut dan bagian tubuhnya yang basah. Walaupun agak kedinginan ia belum bermaksud mandi. Ia malah ke dapur membuat kopi dan dibawanya ke ruang tamu. Dihempaskannya tubuhnya ke sofa sambil memandang ke luar jendela, mencoba memindai rinai hujan yang masih juga terdengar turun malam itu. Pikirannya melayang, masih teringat dengan percakapannya tadi siang dengan Rahmat, teman sekantornya yang sudah beranak lima orang.

“Terus kenapa Loe belum nikah juga Ra?” Tanya Rahmat sambil menyendok kuah soto Betawi yang ada di depannya.

“Tahulah Mat, belum ada yang cocok aja…,” jawab Rakyan dengan ogah-ogahan. Ia paling malas kalau diajak ngobrol tentang pernikahan. Dia pura-pura sibuk dengan es cendolnya.

“Loe mo cari pendamping yang sempurna ya? Percayalah Ra, selama Loe masih ingin nikah dengan manusia, ga bakalan Loe nemu yang sempurna. Sedikit banyak pasti adalah kekurangannya, dan kamu harus bisa menerimanya Ra..”

“Bukan masalah itu Mat. Kalo yang itu Gue dah paham. Gue juga gak sempurna ko Mat…” jawab Rakyan sambil menerawang.

“Trus masalahnya apa donk?” cecar Rahmat penasaran seolah mendapat puzzle dari sahabatnya itu.

“Ada yang lain Mat… Hatiku belum siap. Walaupun sudah hampir sepuluh tahun berlalu, lukaku masih terasa menganga lebar Mat. Pernah ada seseorang yang singgah di hatiku, namun ia begitu cepat meninggalkanku. Padahal mimpi-mimpi indah hampir saja terwujud. Jika mengingatnya, hati ini terasa tersayat-sayat. Aku…. aku belum bisa melupakannya dirinya Mat,” jawab Rakyan dengan lirih takut terdengar orang-orang yang ada disekitarnya. Jika bukan di tempat umum, mungkin air matanya sudah satu persatu menetes.

“Sorry Ra, bukan maksud Gue menggurui Loe. Tapi menurutku, ini sudah terlalu lama. Sepuluh tahun Ra!.. Sisa kebakaran hutan atau gunung meletuspun pasti sudah hijau kembali. Alampun menyembuhkan lukanya Ra. Loe harus bangkit! You have to move on! Jangan terlalu mellow, aku yakin kamu bisa, lha wong kalo hatimu yang asli di potong separuh aja dia masih bisa tumbuh lagi,”

“Entahlah Mat, Gue ko gak yakin ya. Mungkin jika aku paksakan menikah hatiku bisa berubah kali ya?”

What!?? Dipaksakan menikah? Kasihan bener istrimu ntar Ra kalau menikah dengannya tapi kamu masih mengingat cintamu yang dulu. Kamu mungkin bisa berdalih akan belajar mencintainya, namun pada akhirnya mungkin kamu hanya  memberikan rasa kasihan padanya. Cintamu semu… mungkin malah cinta buatan…artificial love..”

“Sori ya Ra, bukan berarti Gue nakut-nakutin Loe mo nikah cepet-cepet. Tapi saran Gue ya Ra, sembuhin hatimu dulu. Secepatnya!!.. kemudian nikah juga secepatnya. Ingat Ra, Loe bukan Rakyan sepuluh tahun yang lalu. Lihat dirimu sekarang Ra, jabatan, mobil, rumah, investasi, dan gelar master sudah kamu punya semua. Semakin lama kamu menunda nikah dan semakin banyak materi yang kamu punya, wanita yang menyukaimu akan melihat dirimu yang tak utuh lagi Ra. Mungkin mereka tidak melihat Rakyan yang asli lagi tapi melihat apa yang Loe punyai saat ini. Mereka bisa jadi tidak memberikan cinta sejatinya, tapi lagi-lagi hanya artificial love. Cinta buatan karena mereka melihatmu yang separuh, bukan yang utuh. Loe mau mencintai dan dicintai tapi semuanya hanya buatan?”

Suara halilintar yang menggelegar membangunkan Rakyan dari lamunannya. “Sialan si Rahmat!” umpatnya dalam hati. Rahmat memang omongannya ceplas-ceplos, tapi setelah ia pikir-pikir memang benar juga adanya. Mungkin memang ada yang salah dengan dirinya, membiarkan luka hatinya terbuka dan tak sembuh. “Tuhan tolonglah hambamu ini..sembuhkanlah luka hatiku,”gumamnya lirih. Tuhan! Kenapa di waktu sedih dia baru teringat Tuhan. Tiba-tiba saja ia teringat belum sembahyang Isya. Teringat juga ia berkali-kali menunda-nunda shalat, melalaikan bacaan Qur’an. Shalatnya bagaikan rutinitas robotis yang ia kerjakan di sela-sela kesibukan pekerjaannya. Sama sekali tak membekas di hatinya. Bukankah Tuhan telah menjanjikan memberikan ketenangan jiwa dengan shalat dan bacaan Qur’an?

You have to stop drowning yourself right now right here. Time to change and to move on Rakyan, to be a better person..,” gumamnya dalam hati. Bismillah..Help me God

Advertisements