Sarang yang kosong

Sore itu kusempatkan menjerang secangkir  kopi dan melangkah ke balkon di belakang rumah. Kesibukan telah membuatku tak sempat mengerjakan hal lain selama hampir tiga hari, bahkan untuk sekedar minum kopi di balkon itu. Kebiasaan rutin di sore hari untuk mengendorkan otot-otot mataku. Perlahan kugeser pintu dan melangkah dengan sedikit cemas, berharap masih menemukan mereka di sana. Namun, bertolak belakang dengan pengharapanku, kecemasanku menjadi kenyataan, aku tak menemukan mereka, keluarga Pukeko. Hanya seonggok sarang kosong terapung di atas teratai yang mulai menguning kutemukan di sana.  Hujan semalam membuat sarang itu basah dan berantakan. Sunyi… hanya ada riak-riak air disapu angin dingin yang bertiup kencang sore itu. Kuteguk kopi dari cangkir untuk melawan dinginnya angin sore, mengharap efek kafeinnya meningkatkan aliran darah ke semua sel-sel tubuh dan otakku. Namun, tiba-tiba yang terlintas adalah bayangan rumah-rumah itu. Rumah orang tua kami …

Sama seperti sarang ini, seperti baru kemarin terjadi. Kami membuat gaduh dan berantakan rumah orang tua kami. Sibling rivalry, keisengan, teriakan-teriakan, dan candaan antara kami membuat rumah itu berwarna dan hidup. Seiring dengan bertambahnya usia, satu demi satu dari kami meninggalkan rumah itu. Untuk sekolah, bekerja ataupun kemudian suatu saat menikah dan membangun sarang-sarang baru kami sendiri. Perlahan keriuhan itupun hilang dari rumah itu. Hanya saat-saat tertentu saja keriuhan itu datang, namun dalam sekejap segera menghilang. Dan sunyipun kembali datang ke rumah itu, serupa dengan sarang kosong di atas danau.

Aku tahu orang tuaku mungkin merasa sunyi. Namun, tak pernah sekalipun mereka menyuruhku untuk tinggal. Mereka paham bahwa menyuruh kami tinggal akan membuat mereka tenang dan bahagia, tapi itu hanya untuk sesaat. Ketika umur kami bertambah dewasa, bukan kelucuan dan keluguan yang mereka temukan dalam diri kami, namun kemalasan dan keengganan yang menyesakkan hati mereka. Seperti halnya air sungai yang mengalir dan tak mengalir. Air sungai yang mengalir selalu akan menimbulkan aroma kesegaran sedang yang mampet cenderung akan mengeluarkan bau busuk. Segala hal yang berhenti dan konstan akan lebih banyak melahirkan mudharat daripada manfaat.  Membiarkan anak-anaknya mengalir pergi untuk belajar dan berkembang, pada akhirnya akan memberikan kebahagian dan kesegaran. Melihat anaknya berhasil adalah kebahagian yang tak tergantikan. Bukti bahwa mereka tak menyia-nyiakan amanah yang telah Tuhan berikan pada mereka.

Pada akhirnya kami, anak-anak mereka, akan mengalami siklus yang sama. Membuat sarang, membesarkan anak-anak kami, mengajari mereka, dan melepas mereka pergi ketika telah tiba saatnya. Kami pasti juga akan mengalami bagaimana sarang kami yang semula riuh berganti sunyi. Ah, memikirkan hal ini membuatku nelangsa. Aku tak suka kesendirian dan kesunyian. Sepertinya dari sekarang, kami perlu memikirkan cara agar sarang-sarang kami tidak berubah sunyi ketika suatu saat anak-anak beranjak pergi. Mungkin terlalu dini, sarangpun kami belum tempati. Masih jauh mungkin… Tapi biarlah..

Angin sore yang semakin kencang memaksaku untuk beranjak pergi dari balkon itu. Sesaat sebelum kakiku beranjak, ketika pandanganku tertuju ke sudut danau yang lain. Kulihat, beberapa burung Pukeko kecil disana. Kaki-kaki mereka tampak semakin kuat, berlarian di atas tanaman teratai. Mengejar serangga-serangga air untuk dijadikan santapan. Sang induk mengawasi mereka di dekat mereka. Ah bahagianya kamu sang induk. Sebentar lagi tugas yang semesta alam berikan kepadamu akan segera usai. Kamu telah membuktikan dirimu mampu. Tak lagi ada keraguan …

Advertisements