Cerita Pukeko

Awalnya, mereka berdua  datang ke tempat itu dengan membawa ranting-ranting kering. Mereka susun ranting-ranting itu menjadi sarang di atas air. Entah arsitek dan konsultan sipil mana yang mengajarkan kepada mereka tentang pemilihan lokasi dan konstruksi sarang. Yang jelas, mereka tidak pernah belajar hukum-hukum fisika dan matematika untuk mengapungkan sarang itu. Menurutku, lokasi sarang itu cukup strategis, di bawah pohon Akasia besar. Cukup teduh melindungi sarang itu, ketika matahari sedang terik-teriknya di siang dan menjelang sore hari. Semak-semak di depan sarang itu menjadi penghalang alami ketika angin bertiup dengan kencangnya. Sarang diletakkan agak menjorok ke tengah danau, mungkin supaya Iguana dan predator lain tidak memakan telur-telur mereka. Cukup asri, karena sarang mereka di tengah tanaman Lotus, yang apabila siang bunga kuningnya yang menyerupai matahari  bermekaran, terutama di musim panas ini. Romantis bukan? Lokasi impian bagi pasangan itu, mungkin..

Sudah lebih dari tiga minggu semenjak mereka meletakkan telur-telurnya di sarang itu. Mengerami telur-telur itu dalam panas, hujan, dan angin. Jika diumpamakan tentara, tak sekalipun pos mereka  tinggalkan. Tadinya kupikir mereka seperti halnya ayam, setelah sarangnya jadi, sang betina mengerami telurnya sedangkan si jantan ngelayap entah kemana. Probabilitas si jantan kawin lagi 100%, tak peduli lagi dengan si betina.Sependek pengetahuanku ketika memelihara ayam sewaktu kecil, si ayam jantan tak pernah menyiapkan sarang untuk betina. Sungguh terlalu! Hit and run, mungkin begitu ibaratnya. Pantas saja para punjangga tak pernah menggunakan ayam sebagai simbol kesetiaan cinta.

Ternyata asumsiku terhadap pemilik sarang di tengah danau itu salah. Tugas mengerami telur adalah tanggung jawab bersama! Ya, mereka bergantian mengerami telurnya. Ketika si betina mendapat tugas jaga, si jantan keluar mencari makan. Setelah kenyang, ia datang ke sarang untuk gantian mengerami telur-telur itu dan si betina mencari makanan. Setelah telur menetas, tugas si jantan bertambah. Ia harus mencarikan makanan bagi anak-anak mereka yang masih kecil. Melumatkan makanan dan menyuapkannya ke bayi-bayi mereka. Team-work yang luar biasa. Si jantan, walaupun melihat tubuh si betina yang melar karena bertelur dan mengerami, tak pernah tergoda untuk berpaling mencari pasangan yang lebih langsing atau menarik. Komitmen, istilah yang sering digunakan para ahli. Seberat apapun tugasnya, si jantan tetap berkomitmen pada tugasnya sampai akhir, tak lari dari tanggung jawab.

Temans, kuperkenalkan padamu keluarga burung di danau sebelah rumahku, The Purple Swanphen! Kalian bisa menyebutnya Pukeko. Catatlah dan tuliskanlah namanya dalam puisi-puisi cintamu. Karena kesetiaan mereka tak kalah dengan merpati.

Advertisements