Miss Ethel

Kayu mempercepat langkahnya. Ia tak ingin berlama-lama berjalan di lorong itu. Setiap kali ia mengangkat pandangannya, sepasang mata itu menatapnya tajam, dingin tak berbelas kasihan. Seolah dengan sinis berkata,”Hei anak muda, kau pikir kamu hebat bekerja dan pulang jam 10 malam? Kau belum ada apa-apanya dibandingkan denganku”. Kayu segera menundukkan pandangan matanya. Tak sanggup ia beradu tatapan dengan sepasang mata yang ada di depannya.

Kayu menatap lantai sambil terus berjalan. Namun, ia masih bisa merasakan tatapan mata itu tetap tertuju kepadanya. Terasa aura dingin menyelimutinya, bulu kuduknya terasa berdiri dan denyut jantung beranjak naik. Sebenarnya, paras pemilik sepasang mata itu sangat ayu. Di pagi hari tatapan matanya sangat ramah, seolah mengucapkan selamat pagi dan memberikan semangat untuk berkarya. Tapi Kayu merasakan tatapan mata itu berubah  menjelang malam hari.

Merasa tak nyaman dirinya dipandangi, Kayu balas memelototi sepasang mata itu. Namun, tak lebih dari 10 detik. Ia merasa kalah pamor, kembali tertunduk. Dikumpulkannya semua keberaniannya melangkah ke pemilik sepasang mata itu. Diletakkanya tas punggung kemudian tangannya menangkup di depan dada sambil memasang wajah paling memelas.

”Miss Ethel, please let me go home. I am so tired, sleepy and hungry. My brain stops working. I’ll come back in the early morning tomorrow. Shall I?

Kayu memandang wajah perempuan bertoga itu. Masih dingin, namun berangsur Kayu bisa melihat roman muka perempuan itu berubah. Bibir perempuan itu menyungging senyuman. Namun tunggu, Kayu melihat senyuman perempuan itu semakin lebar, lebih menyerupai seringai serigala lapar. Jantung Kayu terasa berdenyut eksponensial, berlipat kali semakin cepat seolah mau melompat dari rongga dadanya. Spontan ia raih tas punggungnya, lari terbirit-birit menjauh secepatnya dari tempat itu. Mungkin beban risetnya telah mengurangi sebagian kewarasannya. Lukisan Miss Ethel Raybould yang tergantung di ujung lorong perpustakaan pun diajaknya bicara.

Sejarah singkat

Miss Ethel Raybould, MA adalah salah seorang dosen Matematika di University of Queensland (UQ). Sewaktu lulus dari kuliahnya dulu, ia meraih penghargaan tertinggi dan medali emas di bidang Matematika, mematahkan stigma negatif perempuan kala itu.Untuk menghormatinya, UQ menggunakan namanya untuk nama bangunan di fakultas Matematika, Fellowships, dan memajang lukisannya di Dorothy Hill Physical Sciences and Engineering Library.

Advertisements