Suatu senja di Brisbane River

Matahari sudah condong ke ufuk barat, namun teriknya masih terasa menyengat. Kayu membereskan alas shalat yang baru saja dipakainya. Tempat shalat yang baru digunakannya mirip saung kecil dengan balkon yang menjorok ke sungai. Bagian dalam saung mempunyai atap sedangkan bagian balkonnya dibiarkan terbuka. Ada beberapa bangku kayu yang memang disediakan untuk menikmati sungai. Saat sunset mungkin paling indah dinikmati dari saung itu. Disepanjang area taman di sungai dengan lebar yang hampir 300 meter itu, ada beberapa saung yang semuanya dalam kondisi bersih terawat dan nyaman untuk dipakai.

Kayu kembali memakai sepatu, berdiri dan membalikkan badannya ke belakang. Ada sosok anak kecil berambut pirang di depan pintu saung itu. Separuh badannya disembunyikan di belakang dinding luar. Kepalanya melongok ke dalam ingin tahu yang sedang Kayu kerjakan. Mungkin ia sudah di sana beberapa saat yang lalu memperhatikan Kayu yang sedang shalat. “Hello, how’re you going buddy?” sapa Kayu sambil menebar senyuman. Bocah berambut pirang itu balas tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi, namun kemudian ia berlari ke orang tuanya yang sibuk membakar sausage. “Tak biasanya anak bule malu-malu,” gumamnya dalam hati. Dari kejauhan tampak wanita yang sedari tadi sibuk menyiapkan sausage menyadari kedatangan anaknya. Ia melambaikan tangan ke arah Kayu sambil berucap,”Sorry, did he disturb you?”

“Ah, not at all, that’s all right,” balas Kayu setengah berteriak khawatir suaranya tak terdengar karena angin yang bertiup cukup kencang di sore itu.

Mengerjakan shalat di tempat umum ketika bepergian sudah ia jalani tiga tahun terakhir. Tidak seperti tempatnya berasal yang dengan mudah menemukan mushala atau masjid, di negeri ini, tempat ibadah itu tak mudah dijumpai. Untunglah, negeri ini cukup toleran. Sepanjang aktivitas shalat individu tidak mengganggu kepentingan individu lain atau kepentingan umum, mereka bebas melakukannya. Di negeri ini, ia merasakan bagaimana menjadi minoritas dan bagaimana masyarakat yang mayoritas bersikap toleran. Sebagian ada yang tidak peduli dengan aktivitas shalat Kayu, namun beberapa orang tertarik, bertanya-tanya tentang apa yang dilakukannya, mengapa  dan berapa kali ia melakukannya. Menurutnya, itu adalah saat yang tepat untuk menjelaskan tentang apa yang dianutnya dalam situasi yang santai. Saling mengerti dan memahami adalah salah satu kunci harmoni.

Kayu berjalan ke arah balkon saung itu. Diedarkan pandangannya dari ujung satu ke ujung lain sungai itu sambil menarik nafas panjang-panjang, seolah ingin memasukkan oksigen sebanyak-banyaknya di rongga dadanya. Ia berusaha merasakan setiap molekul oksigen mengalir dalam darahnya, mengangkat semua radikal bebas yang telah lama mengendap di sel-sel tubuhnya.

Sore itu, cuaca memang cukup cerah setelah dua hari sebelumnya hujan turun dengan lebatnya. Beberapa orang memanfaatkan sore itu dengan bermain jetski, kano, berperahu layar, dan memancing.Tak kalah ramai, di taman sepanjang sungai, banyak orang beraktivitas dari sekedar duduk, ngobrol, membaca buku, jogging, baberque-an, panjat dinding, sampai melangsungkan prosesi pernikahan! Ya, taman cantik sepanjang hampir tiga kilometer itu benar-benar memanjakan penduduk kota ini. Jika di gabungkan dengan taman-taman lain yang terdapat di sepanjang sungai ini mungkin jumlah panjangnya mencapai puluhan kilometer. Dan yang lebih menarik lagi, semuanya gratis! Tak ada tiket masuk, ongkos parkir, apalagi pengamen. Itulah kalau pajak yang dibayarkan dikelola dengan benar untuk membangun fasilitas publik, dan tidak dikorupsi oleh oknum-oknum pegawai pemerintah.

Semenjak menginjakkan kaki di negeri ini, Kayu begitu terpesona dengan sungai itu. Lebar, bersih, dan cantik.  Beberapa sisi sungai memang telah dibangun dengan penguat beton, terutama di bagian yang diperuntukkan untuk taman dan pemukiman. Namun, pembangunan di sepanjang sungai itu tetap memperhatikan sisi lingkungan dari sungai sehingga tampak serasi tidak terkesan dipaksakan. Sebagian besar sungai masih dibiarkan alami dengan mangrove (hutan bakau) di pinggirnya. Bakau? Yah, sungai ini memang berair payau. Karena penasaran, Kayu pernah membuktikan untuk mengecap airnya, dan memang asin rasanya. Tidak heran jika memancing di sungai ini akan mendapat snapper, bream, flat-head, salmon, jewfish, mud-crap, bahkan hiu. Surga bagi para angler, kecuali nasib mereka sedang sial dan hanya dapat menangkap cat fish (lele). Ikan paling dibenci di sungai ini.

Semua keindahan sungai ini tidak datang seketika. Dahulu, sungai ini juga pernah rusak dan tercemar. Kerakusan manusia akan material tambang, industri manufaktur dan pertanian pernah merusak sungai ini dengan limbahnya. Namun, dengan seiringnya tumbuhnya kesadaran penduduk akan lingkungan didukung kebijakan dari parlemen dan pemerintah. Berangsur sungai itupun kembali bersih. Tidak seketika, namun memerlukan waktu yang cukup lama. Bahkan di tahun 2008, sungai inipun belum memenuhi standar kualitas air. Bahkan mandi di sungai ini adalah terlarang. Tak ada proses instan untuk memperbaiki alam yang telah terlanjur rusak. Perlu usaha keras, sungguh-sungguh dan berkesinambungan, begitu para ahli biasa menjelaskan.

Kayu benar-benar menikmati atmosfer di tepi sungai sore itu. Ia melihat betapa penduduk di daerah ini menikmati waktunya disana. “A high quality of life,” batin Kayu. Tidak perlu menggunakan Google dan mencari berapa pendapatan perkapita, cadangan devisa, pertumbuhan ekonomi, ataupun iklim usaha suatu wilayah untuk melihat tingkat kesejahteraannya. Bagi Kayu, cukup dengan datang ke sungai yang terdapat di suatu daerah. Lihat bagaimana kondisi sungainya dan bagaimana penduduk sekitar sungai menggunakannya. Jika sungainya bersih dan terawat, bisa dipastikan tingkat kesejahteraan mayoritas penduduk di daerah itu juga tinggi. Ingat, mayoritas dan bukan rata-rata atau bahkan minoritas. Mudah dan sederhana…

Advertisements