Kebun berbatu

simbah3

Kayu menatap tubuh renta di depannya. Perempuan dengan baju hangat dan jarik yang sudah lusuh. Selembar kain hitam menyembunyikan rambutnya yang telah memutih. Tangan perempuan itu memegang sebilah linggis. Di depannya ada tenggok berisi minuman dan kain untuk menggendong. Diayunkannya linggis itu ke atas dan sekuat tenaga di hunjamkannya ke tanah di depannya. Bukan, bukan tanah yang dihantamnya, tapi bebatuan yang diselimuti pasir. Hari itu, matahari begitu menyengat dan udara terasa begitu panas. Angin yang datang menerbangkan pasir di sekitarnya.

“Mbah, simbah kok masih tinggal disini? Kemarin gunung ini habis meledak dahsyat. Simbah tidak kepingin pindah dari desa ini mbah?” tanya Kayu sambil berjalan mendekat.

Perempuan tua itu berhenti sejenak, menatap ke arah datangnya suara.

“Ohh, ono opo Le..?” Ia berpaling ke arah Kayu. Dengan lengan bajunya ia mengusap keringat yang menetes di pelipisnya. Mbah Suto namanya. Ia tak ingat kapan dilahirkan. Kalau ditanya berapa umurnya, ia hanya bisa mengira-ngira. Mungkin sekitar 80 tahun. Yang diingatnya hanyalah bahwa ia pernah merasakan perihnya penjajahan Belanda dan Jepang.

“Simbah kok tidak pindah mbah dari sini, kan kebunnya mbah sudah rusak diterjang lahar?” Kayu mengulang pertanyaannya.

Mbah Suto menghela hafas panjang, sambil menarik lengan kebayanya lebih ke atas.

“Enggak Le, mbah pengen tetep disini. Semua yang mbah miliki semuanya ada disini. Rumah, kebun, dan sanak-saudara semua di sini. Kemana Le, Mbah harus pergi?” jawab mbah Suto.

“Transmigrasi Mbah, ke Sumatera, Kalimantan, atau Papua. Kan masih banyak tanah luas di sana Mbah. Kabarnya kalo transmigrasi dapat tanah berhektar-hektar lho Mbah..” pancing Kayu.

Mulut mbah Suto terbuka sedikit lebar, menunjukkan giginya yang jarang-jarang dan menghitam karena kebiasaannya mengunyah kinang. Dengan sedikit ditahan dia tergelak.

“Buat opo tho Le, tanah luas-luas. Kalau buat hidup, Simbah dengan sepetak tanah ini, wes cukup… Aku ini sudah tua Le, tinggal nunggu giliran dipanggil Gusti Allah. Aku dilahirkan di tanah ini, aku ingin juga dikuburkan di tanah ini. Akan aku kembalikan semua yang sudah kumakan dan ambil dengan jasad ini Le…”

“Anak-anak mbah bagaimana? Mereka tidak ingin pindah Mbah?” Kayu masih ingin tahu.

“Anak-anak Mbah sudah besar semua Le. Mereka sudah bisa mencari makan sendiri. Ada yang di Jakarta, Semarang, Batam. Pokoknya dah nyebar Le. Cuma ada anak ragilku yang masih tinggal di sini. Ia tinggal sama suaminya di desa sebelah. Terserah anak & menantuku kalau mereka mau pindah. Mereka sudah dewasa, bisa membuat keputusan yang paling baik.”

“Simbah trus tinggal dengan siapa disini?” selidik Kayu.

“Sendirian Le. Mbah lanang sudah lama mendahuluiku, ketika anak ragilku masih umur 15 tahun. Alhamdulillah aku masih kuat ngerjakan semuanya sendiri. Kalau siang atau sore anak serta cucuku biasanya datang ke rumah, bantu-bantu simbah.”

“Mbah Suto tidak takut kalau gunung ini meletus lagi? Letusan kemarin besar sekali mbah. Hutan hijau di lereng sana sudah tidak ada lagi. Kebun Mbah juga sudah tertutup pasir dan batu-batu.”

“Le, aku sudah tumbuh di sini sejak lahir. Aku sudah melihat bagaimana gunung ini tumbuh dan berubah. Aku juga sudah mengalami berkali-kali ketika gunung ini sedang batuk-batuk dan mengeluarkan apa yang dikandungnya. Aku sudah terbiasa dengan itu semua Le..” Mbah Suto menjawab sambil pandangannya menerawang jauh ke puncak gunung.

“Gusti Allah, lewat gunung ini telah memberikan segalanya kepadaku dan penduduk sekitar sini. Tanah yang subur, udara, dan air yang bersih. Kami makan dari apa yang ditumbuhkan di gunung ini, kami minum dari mata air yang dikeluarkan gunung ini. Pun hewan ternak kami dan hewan liar yang ada di sekitar sini. Tidak hanya itu, kami masih mengeruk pasir dan batu yang ada di sungai-sungainya.”

“Le, gunung ini baru sakit sekarang. Setelah apa yang ia berikan kepada kami, tak layak kami meninggalkannya begitu saja. Aku percaya, seiring dengan berjalannya waktu alam akan menyembuhkan dirinya sendiri. Lihatlah, rerumputan mulai menyembul diantara pasir dan bebatuan. Mereka hanya tidur sejenak dan akan tumbuh kembali. Kami juga bagian dari gunung ini Le… Ketika gunung ini meledak, sebagian dari kami terluka bahkan beberapa anggota keluarga kami menjadi korbannya. Namun dengan berjalannya waktu, perlahan luka kami juga menghilang..”

“Kami ingin menjadi orang yang tahu membalas budi Le… Kami ingin membantu menyembuhkan luka gunung ini. Hanya ini yang bisa kami lakukan, memecah batu, menyingkap pasir, dan menyemai tanaman baru. Agar gunung ini kembali hidup, kembali hijau, kembali memberikan manfaat yang lebih bagi semuanya.”

“Lihatlah, baru satu tahun berlalu, gunung ini mulai menghijau. Ia mulai sembuh…tunggulah sebentar lagi, kita hanya perlu bersabar sebentar lagi agar gunung ini kembali seperti sedia kala” kata mbah Suto sambil memandang ke arah Renjana.

“Sudah siang Le…itu azan sudah terdengar dari langgar. Ayo turun dulu shalat.” Mbah Suto berpaling dari Kayu. Ia mengambil linggis, memasukkan beberapa sayuran yang telah dipetiknya ke tenggok, dan menggendongnya di punggung. Ia kemudian berjalan menuruni punggung gunung itu.

Kayu berlari kecil di belakang mbah Suto sesaat kemudian berjalan menjajarinya. “Mbah, gunung ini bukan hanya berarti bagimu namun bagiku juga. Akupun ingin ia hijau seperti dahulu kala,” gumam Kayu dalam hati.

merapi2

Glosary

Mbah: Simbah: Nenek

Le: Thole: sebutan anak laki-laki Jawa.

Linggis: batang besi berujung lancip untuk melubangi tanah/batu.

Tenggok: bakul/kontainer kecil dari anyaman bambu.

Kinang: campuran tembakau, sirih, gambir, dan batu kapur cair.

Langgar: musholla, tempat shalat.

Advertisements