The romance of two Rasulullah’s companions

Ini adalah mutiara kisah yang tak akan lekang oleh zaman, tentang Umar bin Khattab ra dan Khalid bin Walid ra. Keduanya adalah sahabat-sahabat terbaik Rasulullah SAW.

Umar bin Khattab, orang yang berkarakter keras namun memiliki hati yang lembut. Setelah masuk Islam, ia menjadi orang terdepan yang membela Rasulullah ketika berdakwah. Sepanjang hidupnya ia selalu bersikap hati-hati, berpegang teguh dengan ajaran Rasulullah SAW dan menjauhi amalan yang meragukan. Sikapnya yang strict kadang menimbulkan ketidaknyamanan bagi sebagian orang. Namun, ia tidak bergeming, menjalankan apa yang telah ia dapatkan dari Rasulullah.

Khalid bin Walid, dikenal sebagai sayfullah, pedang Allah. Khalid yang dulu menghancurkan pasukan Rasulullah di perang Uhud, adalah seorang arsitek perang terhebat. Ia mendapatkan cahaya Islam setelah kekalahannya di perang Khandaq. Pasukan besar yang dibawanya saat itu tak mampu melumpuhkan benteng Madinah. Sepanjang karir militernya di bawah bendera Islam, ia telah mengalahkan pasukan perang nabi palsu Musaylamah, pasukan Persia yang terkenal dengan baju besinya, dan pasukan Romawi yang disegani masa itu. Ia yang selalu mendambakan sahid di medan perang, namun Allah menghendaki akhir yang berbeda.

Kisah bermula selepas Rasulullah SAW wafat. Kaum oportunis yang masuk Islam setelah Rasulullah berhasil menaklukan Mekah, mereka mulai menunjukkan sikap aslinya. Dengan kedok Islam mereka ingin mendapatkan kekuasaan dan harta. Muncullah berbagai pemberontakan dan pembangkangan kepada kalifah Abu Bakar As Sidiq. Ada yang mengaku sebagai nabi palsu, ada yang tak mau membayar zakat. Sang Kalifah yang terkenal sikap lemah lembutnya, kali ini menunjukkan sikap tegas. Dikirimkannya pasukan elit untuk memadamkan pemberontakan-pemberontakan itu. Salah satunya di bawah Khalid bin Walid.

Di salah satu pertempurannya menumpas pemberontak, timbul kontroversi seputar kematian Malik ibn Nuwayrah dan pernikahannya dengan Layla. Abu Qatadah Ansari, yang juga sahabat Rasulullah, tidak sepakat dengan eksekusi Malik, karena ia masih seorang muslim dan berstatus tahanan. Umar bin Khattab yang mendengar berita ini langsung meminta Khalifah Abu Bakar untuk memanggil pulang Khalid, membebas tugaskannya sebagai panglima perang, dan melakukan investigasi. Khalid mentaati perintah Khalifah, ia pulang dan menjelaskan kalau Malik seorang yang murtad. Namun, Umar tidak sepakat dengan pernyataannya, dan mengeluarkan kecaman keras terhadap tindakannya mengeksekusi Malik.

Setelah kejadian itu Abu Bakar kemudian mengirim Khalid untuk menumpas pemberontakan Musaylamah. Dua pasukan muslim yang telah dikirimkan sebelumnya berhasil dikalahkan Musaylamah. Di bawah komando Khalid, Musaylamah dan pasukannya berhasil ditaklukan. Setelah itu, Khalid memimpin ekpedisi menaklukan Persia dan Siria yang dikuasai pasukan Romawi. Semua misi yang diembannya diakhiri dengan kesuksesan yang besar.

Ketika Abu Bakar mangkat, Umar bin Khatab menggantikan posisinya sebagai Khalifah. Salah satu instruksi pertamanya adalah mengganti posisi panglima perang yang dijabat Khalid ke Abu Ubaidah. Hubungan Umar dan Khalid dikenal kurang harmonis setelah peristiwa eksekusi Malik. Namun, saat mencopot jabatan Khalid, Umar berkata,”Aku tidak memecat Khalid karena marah atau karena tidak bisa memegang amanah, namun aku hanya ingin orang tahu bahwa yang memberi kemenangan dalam peperangan adalah Allah (dan bukan Khalid).”

Umar dan Khalid adalah saudara sepupu. Orang melihat mungkin hubungan mereka kurang harmonis satu dengan yang lainnya semenjak peristiwa eksekusi Malik. Namun lihatlah, mereka tidak memendam dendam di antara mereka. Ketika Khalid meninggal, Ia mempercayakan keluarga, semua wasiat dan hartanya pada Umar untuk mengurusnya.

Umar adalah sosok yang hanif, sangat berhati-hati. Ia membenci perbuatan eksekusi Malik dan penggunaan alkohol untuk mandi yang dilakukan Khalid. Ia bahkan pernah berkata akan merajam Khalid karena perbuatannya. Namun, sungguh Umar sangat menyayangi Khalid. Ia tidak ingin Khalid melakukan perbuatan-perbuatan yang mungkin mendatangkan azab baginya. Umar sangat ingin mereka selalu bersama di dunia dan di akhirat. Kalaulah rajam akan membebaskan Khalid dari siksa akhirat, tentu ia akan melakukannya karena ia tak ingin melihat Khalid menderita di akhirat nanti.

Lihatlah,  seperti orang tua yang menghardik anaknya karena menggunakan baju minim yang mengumbar aurat. Ia menghardik bukan karena membenci anaknya, namun karena sayang & cinta. Ia ingin anaknya berada di tempat yang mulia di akhirat nanti, bukan di tempat yang terlaknat.

Demikian juga Umar dan Khalid. Ia membenci perbuatan Khalid karena ia begitu mencintai saudaranya itu. Semoga rahmat Allah selalu melingkupi mereka berdua.

pict from: http://www.foreverparenting.com/1434/built-in-friends/

Advertisements