Rumah kedua (1)

Lelah, pusing, haus, dan lapar. Pagi itu, Renjana berjalan terhuyung di terminal bus. Traveller yang melintasi zona waktu yang berbeda menyebutnya jet lag. Namun, kali ini dia menggunakan bus antar kota antar propinsi. Mungkin ia bisa menyebutnya bus lag. Hampir sehari semalam ia duduk di bus itu, berhenti sesekali hanya untuk makan malam/siang di pemberhentian bus. Selebihnya ia duduk, tidur, dan kedinginan.

Bukan perjalanan yang lancar dan menyenangkan. Hampir saja ia membatalkannya dan pulang kembali ke rumah. Semalam, Ia kehilangan dompetnya di pemberhentian bus. Uang, kartu identitas, SIM, sampai kartu anggota persewaan komik favoritnya ada disitu semua. Lebih dari 10 kali dia bolak-balik menyusuri jalan yang ia lewati sebelumnya dan bertanya pada beberapa orang di sepanjang jalan itu. Namun nihil, dompet kumal yang dimilikinya semenjak 5 tahun yang lalu seperti hilang ditelan bumi. Perasaannya semakin panik setelah awak bus memerintahkan para penumpang naik ke dalam bus. Dengan gontai Renjana mendekati salah seorang awak bus.

“Pak dompet saya hilang”. Sejenak awak bus itu diam, matanya menyusur dari ujung kaki sampai kepala Renjana. Mungkin untuk memastikan bahwa ia salah satu penumpangnya.

“Hilang dimana mas?”jawab awak bus bertubuh gempal itu. Pak Radi namanya. Sudah puluhan tahun dia mengukur jalan menjadi sopir tandem.

“Di sekitar restoran pak,” jawabnya singkat. Masak di laut…, dongkol hatinya.

“Tadi sehabis makan dompet saya masih ada. Terus saya ke toilet dan sholat di mushola. Rute itu sudah berulangkali saya periksa. Namun tidak ada pak. Saya juga sudah tanya ke cleaner toilet dan orang-orang di mushola tapi mereka bilang tidak melihatnya.” Papar Renjana.

“Okay, coba saya carikan ya mas, mudah-mudahan ketemu.”

“Tolong ya pak, pliiisss… semua surat2 penting ada disitu.”

“Surat cinta juga ya mas?”

“Kalo yang itu ga ada pak, belum laku.”

“Hahaha, coba saya cari dulu ya mas.” Nanti saya kesini lagi.

Semenit, dua menit, lima menit, sampai sepuluh menit berlalu namun Pak Radi belum juga kembali. Renjana sudah pasrah. Mungkin Ia tidak ditakdirkan sekolah di luar kota. Di tempat asalnya juga ada sebuah universitas negeri terkenal. Mungkin lebih baik sekolah disitu. Pikirannya mulai melayang tak menentu..

“Hei buluk.., Lo bilang mo merasakan dahsyatnya petualangan? Saat badai menerpa, hujan membasahi kulitmu, dan matahari membakar kepalamu? Ini dompet baru hilang saja sudah mo nangis?”

“Hey biarin…, Gue kan baru sekali ini jauh dari rumah? Wajar donk kalo nangis…”

“Dasar cengeng.., daripada mewek gitu mendingan cepet-cepet Lo blokir tuh rekening.” Kartu kreditmu dipake orang baru nyahok Lo…”

Renjana terkesiap. Kesadarannya kembali lagi 100%. Diraihnya handphone dan mulai menekan tombol call centre bank.

Tuut…tuuut…..”Customer service Bank Wira selamat malam, ada yang bisa saya bantu”. Terdengar suara merdu diujung sana.

“Ehh, malam mbak, saya Renjana. Saya baru saja kehilangan kartu atm dan kredit saya. Bisa minta tolong di blokirkan?”

“Okay, boleh disebutkan tanggal lahir dan nama ibu kandung?”

“Siap mbak.” Disebutkannya tanggal lahir dan nama ibu kandungnya dengan perlahan. Informasi penting yang sekarang banyak diunggah diinternet oleh banyak orang secara tidak sadar. Padahal dengan informasi itu orang yang berniat jahat bisa mengakses account bank kita dengan mudah.

“Okay mas Renjana, accountnya sudah saya blokir, nanti kalau mau mengaktifkan kembali silahkan datang ke kantor cabang kami. Ada yang lain bisa saya bantu?”

“Ehh, enggak mbak, terima kasih banyak bantuannya?”

“Okay, semoga cepet ketemu dompetnya ya mas.”

“Sekali lagi terima kasih, selamat malam…. Maaf dengan mbak siapa?”

“Ooh, saya.. Rengganis..”

“Selamat malam mbak Rengganis, have a good night…”

“You too…” suara lirih terdengar dari seberang sana. Hati Renjana berdesir… Rengganis, nama itu sepertinya tak asing buatnya.

Ditelponnya dua bank yang lain. Walaupun tak banyak uang, namun ia punya tiga rekening bank berbeda. Ketika ditanya kenapa ia perlu rekening bank berbeda? Dia menjawab biar punya kartu atm banyak. Kan keren tuh ya, kalau pas buka dompet. Paling tidak bisa untuk pencitraan calon mertua. Dasar …

Dua puluh menit berlalu, ketika Pak Radi mendekatinya. Ada sedikit senyuman di bibirnya.

“Mas, dompetnya sudah ketemu.”

“Waah, makasih banyak pak!” Mana dompetnya?”

“Gini mas, dompetnya tidak dengan saya. Dompetnya ditemukan cleaner toilet.”

“Gini aja mas… mas kasih aja duit yang ada di dompet buat cleanernya. Dompetnya ntar dikembalikan.”

“Lho bukannya dompetnya milik saya pak?” Renjana keheranan.

“Mas pilih surat-surat penting balik, atau kasih duit?” tawar Pak Radi.

Kayu diam sejenak. Hatinya berontak, dompet itu jelas-jelas miliknya. Namun dia tak punya pilihan lain. Dia hanya ingin dompet kesayangannya balik dan cepet sampai ke tujuan, that’s it!

“Okay pak, deal! tapi saya minta disisain untuk ongkos taksi 50rb aja ya…”

“Siip mas, uangnya bukan untuk saya lho, cleanernya yang minta.” “Tak ambilkan dompetnya ya…” Pak Radi pun berlalu.

Tak lama kemudian Pak Radi kembali dengan sesuatu ditangannya. Hatinya berdesir girang, dari kejauhan nampak benda persegi empat kecil berwarna hitam yang sudah lusuh di tangan awak bus itu.

“Ini mas dompetnya! Lain kali hati-hati ya, kalo perlu di rantai. Kan keren tuh kayak anak band.” Ujar Pak Radi sambil nyengir.

“Saya dulu anak band pak, tapi gak suka pakai rantai. Sukanya tali raffia,” balas Renjana.

“Hahaha, mudah dong kalo dicopet, tinggal di gunting rafianya. Okay silahkan di cek dompetnya, kalau lengkap semua surat-suratnya silahkan segera naik. Udah telat nih kita.”

“Lengkap Pak.” Pak Radi kemudian memandu penumpang kembali ke dalam bus. Perlahan bus itupun merayap meninggalkan pemberhentian bus, kembali menapaki jalan raya yang mulai sepi.

Malam itu Renjana mendapat pelajaran berharga. Tak semua orang bersikap jujur. Semua perbuatan baik yang mereka lakukan mengharapkan imbalan langsung. Dan satu lagi, rantai aksesoris penting untuk mengikat dompetnya!

————————–

Sepuluh ribu kilometer dari bus yang ditumpangi Renjana, seorang gadis berwajah asia turun dari kereta di sebuah subway. Rambut sepundaknya berkibar terkena hempasan angin kereta yang lewat. Terlihat serasi dengan tinggi tubuhnya yang hampir 170 cm. Tampak tas laptop kecil di punggungnya. Mengikuti arus penumpang yang lain, ia berjalan sambil menarik luggage bag dan naik ke atas stasiun itu menggunakan tangga berjalan. Di ujung tangga berjalan adalah lantai dua stasiun kereta terbesar di kota itu. Lega, ketika ia sampai di sana. Bangunannya kuno dengan akesoris gothic, namun sangat luas dan terang. Ada papan-papan besar berisi informasi, peta kota itu, dan jadwal keberangkatan kereta. Gadis itu tampak sedang mencari sesuatu, pandangan matanya melirik ke kanan dan ke kiri. Kemudian ia berjalan menuju bangku di dekat dinding subway. Menunggu, sesuai instruksi yang diberikan kepadanya sebelum itu.

Dari kejauhan nampak perempuan tua bergegas mendatanginya. Di usianya yang di atas kepala enam, wajahnya masih terlihat ayu. Dalam balutan cardigan berwarna coklat ia terlihat 15 tahun lebih muda.

“Pitulayang, is that you?”

“I am, are you Betty?” Glad to see you. I was so scared just now. It is already 8.00 PM, what if you don’t come.

Mereka berpelukan erat. Tak lupa ber-cipika-cipiki…

“It will never happen, darling. We have arranged this since 2 months ago”. How’s your flight? I am very happy to meet you. Look, you are so tall and beautiful.” I haven’t seen you for 12 years, since your family went back to your country. You were so small and shy. How are your mom and dad? They are alright, aren’t they?”

“They are good Betty. They asked me to convey their regards for you”.

“I miss them so much. Why they don’t accompany you and see me?” They must be very busy. Ups, I am talking too much. You have to get used with me. Old lady like me loves to talk. You must be very tired and hungry. Let’s go to my car. A shower will make you refresh. I’ve prepared a special dinner for you. You’re more than welcome in my home… Our home I meant…”

Mereka berjalan beriringan menuju car park. Pitulayang merasa sebagian beban beratnya berkurang karena perjalan jauhnya sudah hampir usai. Tak ada aral melintang, lancar tak ada halangan apapun. Ia juga sudah bertemu Betty, perempuan baik hati yang akan menemaninya 4 tahun ke depan. Namun di sudut hatinya yang lain masih ada yang ia pikirkan… sosok yang terakhir kali ia temui di bandara di negeri asalnya… Dengan kaitan jari kelingking mereka telah membuat janji…

Renjana… Where are you now? Are you okay?… Hope you are safe there… basah terasa disudut matanya…

-Bersambung-

Copyright ©Sakayu 2012

Advertisements