Rapuh

Hari itu, matahari belum sepenggalah. Namun, orang mulai berdatangan ke taman di pinggir sungai. Mereka memasang tenda dan perlengkapannya. Piranti baberque tak lupa mereka siapkan. Terlihat beberapa keluarga malah sudah siap dengan hidangan makan siang. Hari itu adalah festival kembang api tahunan propinsi. Orang luar daerah berduyun-duyun datang, dari sekedar melihat sampai untuk mengabadikan momen langka itu.

Kayu salah seorang diantara keramaian itu. Badan kurusnya terseok-seok menggendong piranti fotografi. Jarak stasiun kereta dan taman di tepi sungai tidaklah mudah baginya, semenjak cidera lutut menderanya tiga tahun terakhir. Berbeda dengan mereka yang membawa tenda, ia hanya berbekal selembar koran untuk alas duduk dan seplastik makanan ringan. Kelihatan menyedihkan memang, sampai-sampai bule yang disampingnya tak tega dan menawarkan kursinya untuk duduk. Tidak, bukan piknik yang ia inginkan. Hanya kembang api, itu yang dicarinya, tak ada yang lain.

Keramaian semakin memuncak, ketika sebuah pesan singkat diterima handphonenya. Hampir saja handphonenya terjatuh karena terkejut ketika membaca pesan itu. Sahabat karib yang kemarin masih segar bugar, tergeletak koma di rumah sakit karena lupus. Masih teringat jelas di memori terakhir kali mereka bertemu, makan dan tertawa bersama. Tak ada yang salah waktu itu. Manusia sungguh rapuh… hidup mereka berubah begitu cepat…

Memorinya kembali melayang ke masa yang lebih jauh. Dua teman sepermainan juga telah lebih dahulu  meninggalkannya. Sama, tak ada yang salah waktu itu. Mereka masih sangat muda. Namun, dalam sekejap mereka begitu saja tiada. Manusia sungguh rapuh… hidup mereka begitu cepat berlalu…

Kilasan kenangan kembali menyeruak. Teringat saat-saat terendah dalam hidup ketika ia merasa sangat tak berdaya. Bahkan dengan bekal pengalaman, ketrampilan, dan kepintarannya. Tangan dan kakinya berasa diikat. Setiap kali ia berusaha bangkit dan menerjang tembok maya di depannya, setiap kali itu juga ia terjungkal dan terlempar ke belakang. Ia yang begitu percaya bahwa takdir ada di tangannya. Saat itu harus mengakui betapa dirinya begitu rapuh… tak kuasa melawan suratan yang telah ditentukan.

Dentuman kembang api membuyarkan lamunannya. Cerawat meluncur silih berganti, meledak di angkasa malam, melukiskan warna-warna indah. Namun lukisan itu begitu cepat menghilang, hanya dalam hitungan detik. Tak ada yang berselang lama apalagi abadi, semua fana. Inikah dunia? Dalam keramaian ia dibalut sepi. Rapuh menyelimuti hatinya… dunia yang dikejarnya laksana kembang api…

Advertisements