Saat harus pergi

young traveller1Belum genap enam belas tahun ketika aku meninggalkan rumah. Bukan karena benci, namun karena aku harus dan aku ingin. Kukumpulkan semua keberanianku untuk meninggalkan rumah penuh cinta yang telah membesarkanku. Bisa saja aku memilih untuk tinggal. Menikmati segala kemudahan dan kenyamanan di rumah ini. Namun, aku tahu bahwa penyesalan besar akan datang kemudian. Di suatu titik ketika aku menengok kebelakang, betapa ku sia-siakan waktu dan hidupku.

Di hari itu, kuputuskan untuk melangkah pergi. Tidak ada tangis, hanya keyakinan dan doa kupinta pada kedua orang tuaku. Dengan takzim, kusampaikan pada mereka. Telah cukup aku baca buku tentang petualangan dan hidup diperantauan. Tak ada lagi yang menarik hatiku. Aku ingin merasakannya sendiri.

Di luar sana, aku tahu akan bertemu hujan dan badai. Mungkin aku menangis dan terjatuh. Namun aku ingin merasakannya saat-saat itu. Saat angin menerpa wajahku, butir-butir hujan membasahi kulitku, atau badai menghempaskan tubuhku. Namun aku tetap ingin, karena itu adalah proses perjalanan. Aku yakin, tak hanya kesusahan, namun kemudahan ada di luar sana. Orang-orang yang baik hati, yang mengajarkanku tentang duni. Hal yang tak mungkin kutemui jika aku tetap tinggal di sarangku yang hangat.

Akhirnya, kumantapkan hatiku untuk melangkah.. aku yakin rumah kedua menantiku diujung dunia yang lain …

Advertisements