Aku, kau, dan rembulan di balik cemara

Kawan, aku pernah bercerita kepadamu, perihal menarik di beranda rumah ini. Ini cerita tentang rembulan dan cemara tua di depan beranda rumahku. Lihatlah, pohon cemara tua yang menjulang tinggi ke langit di depan rumah ini. Bukan cemara milikku, namun aku ikut menikmati keindahannya. Ketika pagi tiba, warna jingga di ufuk timur berpadu dengan siluet sang cemara.  Nuansa yang mengingatkanku pada gunungan wayang yang kutonton waktu kecil dulu. Ada magis disana. Namun, ada yang lebih menarik buatku. Ketika malam tiba dan bulan purnama beranjak naik dari peraduannya, melayang anggun di cakrawala di balik cemara tua.

Ingatkah kau, berapa kali aku mencoba menerangkan kepadamu kenapa bulan dicakrawala terlihat lebih besar. Ilusi optis yang sampai saat ini tak habis dipelajari. Filsuf bijak seperti oleh Ptolemy dan Ibn Al Hayzen sampai ilmuwan-ilmuwan abad dua satu belum sepakat mengenai hal ini. Ah, tak usah kita mendebatkannya saat ini. Untuk sementara, mari kita simpan dalam-dalam rasa ingin tahu ini. Aku hanya ingin duduk di beranda ini, menikmati indahnya illusi dan realita dari rembulan dibalik cemara. Tengoklah, sepoci teh panas sudah siap menemani kita malam ini. Sekarang aku ingin bercerita kepadamu tentang realita rembulan di balik cemara.

Entah sejak kapan cemara setinggi itu. Yang pasti, rembulan  dibalik cemara sudah ada semenjak pertama kali aku tiba disini. Ya, realita yang ada, rembulan purnama selalu datang dan cemara selalu tegak disana. Tak pernah ingkar janji, mereka tepati takdir mereka masing-masing. Istiqamah, terhadap perintah yang diberikan Tuhan kepada mereka.  Meskipun waktu berganti dan mungkin kita tak lagi dirumah ini.  Jika kau bertanya kepadaku sampai kapan mereka terus begitu, akupun tak tahu. Mungkin sampai Tuhan memutus salah satu atau kedua nafas mereka.

Kawan, mungkin kita akan berpisah suatu saat nanti. Menjalani pilihan hidup kita masing-masing. Waktu berganti, manusia berubah, dan akupun tahu bahwa kita juga. Ketika bertemu nanti aku dan engkau bukan orang yang sama seperti saat ini. Namun kawan, aku ingin kita seperti cemara. Bukan berarti menjadi lebih tinggi, namun menjadi manusia yang lebih baik. Aku ingin kita seperti rembulan, yang selalu menepati perintah Tuhannya. Istiqamah di jalan yang kita tahu lurus dan benar. Ah, aku tak ingin membebanimu dengan semua harapanku, karena berharap pada manusia hanya akan melahirkan kekecewaan. Aku hanya ingin kita saling mendoakan agar selalu ada dijalanNya. Semoga…

*picture from: http://www.cyberward.net/

Advertisements